SHENZHEN – Raksasa kendaraan listrik (EV) asal Cina, BYD, melaporkan penurunan angka penjualan kendaraan selama lima bulan berturut-turut. Data terbaru per 1 Februari 2026 ini menunjukkan tantangan besar yang tengah dihadapi oleh pabrikan yang sempat menggeser dominasi Tesla tersebut.
Ini memicu kekhawatiran para investor mengenai titik jenuh pasar mobil listrik serta meningkatnya persaingan harga yang kian agresif di pasar domestik maupun internasional.
Detail Penurunan Penjualan BYD
Meskipun BYD tetap menjadi salah satu pemimpin pasar, tren penurunan ini memberikan sinyal waspada bagi rantai pasok EV global.
Penjualan bulanan terus menunjukkan grafik melandai sejak kuartal terakhir tahun lalu hingga memasuki bulan pertama 2026.
Penurunan tidak hanya terjadi pada model Battery Electric Vehicle (BEV) murni, tetapi juga mulai merambah ke lini Plug-in Hybrid (PHEV) yang selama ini menjadi penopang utama.
Angka pengiriman unit di awal tahun ini berada di bawah target internal yang sebelumnya dipasang dengan optimisme tinggi.
Apa Penyebab Utama Merosotnya Penjualan?
Para analis industri menyoroti beberapa faktor krusial yang saling berkelindan di balik performa buruk BYD belakangan ini:
Perang Harga yang Melelahkan: Persaingan diskon besar-besaran di Cina membuat margin keuntungan menipis dan konsumen cenderung menunda pembelian karena menunggu harga yang lebih rendah.
Sentimen Ekonomi Makro: Melemahnya daya beli konsumen di pasar utama dan pengetatan insentif pajak untuk kendaraan listrik mulai berdampak nyata.
Hambatan Ekspor: Kebijakan tarif impor yang lebih ketat di beberapa wilayah, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat, membatasi ruang gerak BYD untuk melakukan ekspansi agresif di luar negeri.
Langkah Strategis BYD Selanjutnya
Menghadapi situasi ini, BYD dikabarkan tengah menyiapkan strategi rebound. Perusahaan diprediksi akan mempercepat peluncuran teknologi baterai generasi terbaru yang lebih murah serta memperluas jangkauan pasar ke wilayah berkembang seperti Asia Tenggara dan Amerika Latin.
“Ini adalah masa konsolidasi yang berat bagi BYD. Keberhasilan mereka melewati lima bulan yang sulit ini akan sangat bergantung pada inovasi biaya dan kemampuan mereka menembus barikade perdagangan global,” ungkap seorang pengamat otomotif dari Shenzhen.[]









