Banda Aceh – Di balik keindahan melodi dan harmoni orkestra, tersimpan sebuah mitos paling menakutkan yang menghantui sejarah musik klasik selama lebih dari satu abad: Kutukan Simfoni Kesembilan (The Curse of the Ninth).
Superstisi yang mengakar dalam dunia komposisi ini menyebutkan bahwa seorang komposer besar ditakdirkan untuk meninggal dunia segera setelah, atau bahkan saat menulis, Simfoni mereka yang kesembilan, dan sebelum sempat menyelesaikan Simfoni Kesepuluh. Nama-nama besar seperti Ludwig van Beethoven dan Gustav Mahler adalah “korban” paling terkenal yang seolah-olah membuktikan mitos mengerikan ini.
Asal Mula Kutukan: Warisan Abadi Beethoven
Mitos ini pertama kali populer pasca kematian komposer legendaris Ludwig van Beethoven. Setelah menyelesaikan mahakarya kolosalnya, Simfoni No. 9 dalam D Minor (Ode to Joy), Beethoven mulai mengerjakan Simfoni Kesepuluh. Namun, ia wafat pada tahun 1827, meninggalkan karya ke-10 itu tanpa selesai.
Tren tragis ini diikuti oleh:
Franz Schubert: Meninggal dunia tak lama setelah menyelesaikan Simfoni Kesembilan-nya (dikenal sebagai The Great).
Anton Bruckner: Wafat pada tahun 1896 saat masih berjuang menyelesaikan Simfoni Kesembilan-nya.
Drama Gustav Mahler: Upaya Licik Melawan Takdir
Kutukan ini mencapai titik dramatisnya pada awal abad ke-20 melalui komposer Austria, Gustav Mahler. Sadar akan nasib tragis para pendahulunya, Mahler benar-benar ketakutan. Ia bertekad “mengelabui” takdir.
Setelah menyelesaikan Simfoni Kedelapan, Mahler sengaja menolak untuk memberi label Simfoni berikutnya dengan angka 9. Ia malah menamainya Das Lied von der Erde (Lagu Bumi)—sebuah karya yang secara teknis berstruktur simfoni, namun ia sebut sebagai siklus lagu (song cycle).
Mahler yakin ia telah memenangkan pertempuran. Ia kemudian menulis karya berikutnya dan memberinya nomor Simfoni Kesembilan. Namun, saat mulai mengerjakan karya yang seharusnya menjadi Simfoni Kesepuluh-nya (namun secara de facto adalah Simfoni Kesebelas), Kutukan itu kembali menagih. Mahler meninggal dunia pada tahun 1911, meninggalkan Simfoni Kesepuluh-nya tanpa selesai.
“Sepertinya angka Sembilan adalah batas. Siapa pun yang ingin melampauinya harus pergi,” tulis komposer Arnold Schoenberg, mengomentari nasib Mahler.
Kebetulan atau Ancaman Nyata?
Dalam pandangan akademis dan profesional, Curse of the Ninth sebagian besar dianggap sebagai kebetulan historis yang dibesar-besarkan.
Faktor Usia dan Produktivitas: Beberapa pakar berpendapat, pada era tersebut, jika seorang komposer hidup cukup lama untuk menjadi produktif dan menulis sembilan simfoni skala besar, mereka secara statistik memang mendekati akhir usia hidup alami mereka.
Pengecualian: Banyak komposer lain, seperti Dmitri Shostakovich yang menulis 15 simfoni, atau Joseph Haydn yang menulis 104 simfoni, berhasil melewati batas angka sembilan tanpa hambatan.
Meskipun demikian, kisah gelap ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari romansa musik klasik, menambah intrik mistis pada setiap Simfoni Kesembilan yang diciptakan, dan membuat setiap komposer selalu bertanya-tanya: Apakah mereka akan menjadi korban Kutukan berikutnya?










