Jakarta — Nama Najelaa Shihab, kakak dari jurnalis kondang Najwa Shihab, tengah menjadi perhatian publik setelah disebut sebagai salah satu anggota grup WhatsApp eksklusif bernama “Mas Menteri Core Team” yang dibentuk oleh mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim.
Grup tersebut dikabarkan beranggotakan sejumlah tokoh pendidikan independen yang dipercaya memberikan masukan langsung terhadap berbagai kebijakan pendidikan nasional selama masa kepemimpinan Nadiem. Keberadaan grup ini mencuat ke publik setelah muncul dalam laporan penyelidikan terkait dugaan penyimpangan pengadaan laptop Chromebook di lingkungan Kemendikbudristek.
Menanggapi hal tersebut, Najelaa Shihab menegaskan bahwa dirinya memang aktif berdiskusi dalam sejumlah grup WhatsApp yang membahas isu pendidikan, termasuk bersama pihak kementerian, namun perannya bersifat konsultatif dan non-struktural. Ia menolak tudingan bahwa dirinya terlibat dalam proses proyek pengadaan atau keputusan anggaran pemerintah.
“Saya berpartisipasi untuk berbagi gagasan tentang kebijakan pendidikan, terutama terkait kurikulum dan inovasi belajar. Tidak ada kaitannya dengan pengadaan atau proyek apa pun,” ujar Najelaa dalam pernyataannya. Ia menegaskan, fokusnya selama ini tetap pada substansi pendidikan dan pengembangan pembelajaran inklusif di Indonesia.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung RI juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada pemanggilan terhadap Najelaa Shihab. “Dari data yang kami miliki, tidak ada nama Najelaa dalam grup yang dimaksud,” ujar pejabat Kejagung kepada media.
Sementara itu, kuasa hukum Nadiem Makarim menjelaskan bahwa grup WhatsApp tersebut awalnya bernama “Edu Org” sebelum kemudian berganti menjadi “Mas Menteri Core Team” dan akhirnya “Education Council”. Dalam grup itu, Najelaa diposisikan sebagai ahli pendidikan yang memberikan saran terkait transformasi sistem belajar, penerimaan peserta didik, dan pengembangan kurikulum Merdeka.
Terlepas dari polemik tersebut, Najelaa memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan Indonesia. Ia adalah pendiri Sekolah Cikal, Sekolah Murid Merdeka, dan penggagas gerakan Semua Murid Semua Guru — yang semuanya berfokus pada pembelajaran berbasis karakter, partisipatif, dan kolaboratif.
Kontribusinya selama ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk dedikasi terhadap reformasi pendidikan di Indonesia. Najelaa dikenal konsisten mendorong pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi dan merdeka, sejalan dengan gagasan Merdeka Belajar yang digagas Kemendikbudristek.
Meski demikian, munculnya nama Najelaa dalam isu ini menimbulkan perdebatan di kalangan publik dan pengamat pendidikan. Sebagian menilai keterlibatannya sebagai bentuk kolaborasi positif antara pihak independen dan pemerintah, sementara sebagian lain menyoroti potensi tumpang tindih peran antara pihak swasta dan pembuat kebijakan publik.
Pengamat pendidikan menyarankan agar pemerintah lebih terbuka terkait proses konsultasi kebijakan dan pihak-pihak yang dilibatkan, agar tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Transparansi dinilai penting untuk menjaga integritas kebijakan pendidikan nasional sekaligus memastikan bahwa semua masukan bersifat objektif dan profesional.
Kasus ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana komunikasi dan kolaborasi antara sektor publik dan swasta perlu dikelola dengan baik. Dalam konteks transformasi pendidikan Indonesia, semua pihak diharapkan tetap fokus pada tujuan utama: membangun sistem pendidikan yang adil, transparan, dan berpihak pada murid.[]









