Ini adalah kisah cinta bertepuk sebelah tangan di zaman Nabi ﷺ, dan beliau sendiri sampai turun tangan untuk mencoba membantu.
Ada sepasang suami-istri, suaminya bernama Mughits dan istrinya bernama Barirah. Keduanya saat itu masih berstatus budak.
Suatu hari, Barirah sangat ingin merdeka. Ia meminta kepada tuannya agar dibebaskan. Tuannya setuju, tapi dengan syarat Barirah harus membayar sejumlah uang.
Karena Barirah tidak punya harta, ia pergi kepada Sayyidah Aisyah r.a. dan menceritakan masalahnya. Aisyah merasa kasihan, lalu membelinya dan membebaskannya karena Allah.
Setelah merdeka, menurut syariat, Barirah berhak memilih: apakah tetap bersama suaminya Mughits, atau berpisah darinya.
Barirah memilih berpisah, karena sebenarnya ia tidak mencintai Mughits.
Sementara Mughits justru sangat mencintai Barirah. Setelah perceraian itu, ia sering mengikuti Barirah sambil menangis dan merayu agar Barirah kembali kepadanya.
Tetapi Barirah tetap menolak.
Melihat keadaan itu, Nabi ﷺ berkata kepada al-‘Abbas:
“Apakah kamu tidak heran dengan cintanya Mughits kepada Barirah, dan bencinya Barirah kepada Mughits?”
Kemudian Nabi ﷺ menasihati Barirah:
“Kalau saja kamu mau kembali kepadanya (rujuk lagi).”
Barirah lalu bertanya:
“Apakah ini perintahmu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Bukan, ini hanya syafaat (sekadar saran/nasihat).”
Maka Barirah berkata tegas:
“Saya tidak butuh dia.”
Dan Nabi ﷺ tidak marah, tidak memaksa, juga tidak menyalahkan Barirah. Beliau membiarkannya dengan pilihannya, karena Islam sangat menjaga hak kebebasan memilih dalam pernikahan, selama masih sesuai syariat.
🌹 Pelajaran penting dari kisah ini:
-
Pernikahan harus dibangun atas dasar kerelaan kedua belah pihak, bukan paksaan.
-
Cinta sepihak tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksa pasangan.
-
Nabi ﷺ memberi contoh cara menasihati dengan lembut, tanpa menekan atau merendahkan pilihan seseorang.[]










