BREAKING

ISLAM

Jejak Sejarah Qari Indonesia di Perak Malaysia Tahun 1968

Simak jejak sejarah lawatan qari dan qariah Indonesia ke Perak, Malaysia, pada 1968. Sebuah momen penting dalam mempererat hubungan budaya dan religi antarnegara.

SEANTERONEWS.com – Indonesia dikenal luas sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang memiliki qari dan qariah dengan kualitas mumpuni. Prestasi yang diraih para pelantun ayat suci ini tak hanya terbatas di tanah air, tetapi juga diakui hingga kancah internasional.

Namun, pengakuan akan kepiawaian qari dan qariah Indonesia bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum era modern, tradisi dan keahlian mereka telah melintasi batas negara. Salah satu bukti otentik tersimpan dalam catatan sejarah lawatan qari dan qariah Indonesia ke Perak, Malaysia, pada tahun 1968 silam.

Lawatan Diplomatik Religi

Berdasarkan arsip surat kabar Berita Harian edisi 17 Juni 1968, rombongan qari dan qariah asal Medan, Sumatra Utara, yang berjumlah 10 orang, melakukan perjalanan ke Malaysia Barat. Kedatangan mereka di Perak pada 19 Juni 1968 bukanlah kunjungan pertama bagi rombongan tersebut, karena mereka telah menyambangi beberapa wilayah di Malaysia Barat sejak 12 Juni 1968.

Kunjungan ini memiliki makna diplomatik yang kuat. Lawatan tersebut merupakan bentuk kunjungan balasan atas kegiatan serupa yang dilakukan oleh rombongan qari dan qariah asal Malaysia ke Indonesia setahun sebelumnya, tepatnya pada Juni 1967. Hal ini menunjukkan eratnya hubungan persaudaraan antara kedua negara melalui syiar Al-Qur’an.

Rangkaian Kegiatan di Perak

Selama tiga hari penuh, mulai 19 hingga 21 Juni 1968, pihak Kerajaan Perak menyambut rombongan dengan rangkaian agenda yang padat dan bermakna. Berikut adalah kilas balik rangkaian kegiatan mereka:

Hari Pertama: Rombongan tiba di daerah Perak dan singgah di rumah rehat Parit Buntar. Mereka kemudian menghadiri makan siang bersama masyarakat di Sekolah Kebangsaan, Bagan Serai. Pada sore hari, rombongan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan qasidah di Masjid Bagan Serai, kemudian menutup hari dengan pembacaan Al-Qur’an di Balai Raya Sungai Rokam.

Hari Kedua: Fokus kegiatan beralih ke dunia pendidikan, di mana para qari dan qariah mengunjungi beberapa institusi pendidikan ternama, yakni Sekolah Menengah Agama Raja Perempuan Ta’yah dan Izzuddin Shah di Ipoh.

Hari Ketiga: Rombongan mengunjungi Masjid Negeri Perak di Ipoh. Perjalanan di Perak kemudian ditutup dengan acara pembacaan Al-Qur’an dan qasidah yang khidmat di Masjid Ridzuanian, Kuala Kangsar, pada malam hari.

Mempererat Silaturahmi Antarnegara

Usai menuntaskan rangkaian agenda di Perak, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Negeri Sembilan. Lawatan panjang tersebut berlangsung hingga 25 Juni 1968 sebelum akhirnya seluruh rombongan kembali ke tanah air.

Momen lawatan pada 1968 ini menjadi pengingat berharga bagaimana Al-Qur’an menjadi jembatan bagi Indonesia dan Malaysia untuk membangun silaturahmi yang berkelanjutan. Kualitas qari dan qariah tanah air yang diakui sejak puluhan tahun lalu tetap menjadi kebanggaan hingga hari ini, serta terus menjadi warisan budaya Islam yang mempererat persaudaraan dua bangsa serumpun.

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts