AMBON – Forum permusyawaratan tertinggi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) resmi menetapkan nahkoda baru kepemimpinan nasional. Melalui dinamika musyawarah mufakat pada Muktamar XIV yang dipusatkan di Kota Ambon, Maluku, Ricki Pratama Putra terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAMMI untuk masa khidmat 2026–2028.
Terpilihnya kader berprestasi yang berakar dari Pengurus Wilayah (PW) KAMMI Bengkulu ini menandai suksesi kepemimpinan mahasiswa Islam dalam menyongsong tantangan zaman yang kian multidimensi. Dinamika kebangsaan kontemporer, pergeseran isu keumatan, serta lanskap intelektual kampus menjadi arena pengabdian utama bagi kepengurusan anyar tersebut.
Dalam pidato perdananya usai dikukuhkan, Ricki menegaskan bahwa orientasi perjuangan KAMMI ke depan harus kembali menaruh perhatian penuh kepada denyut penderitaan rakyat, terkhusus kelompok marjinal atau kaum lemah (mustadhafin) yang kerap terpinggirkan oleh ketidakadilan struktural.
“Sudah saatnya detak jantung perjuangan KAMMI berirama langsung dengan ratapan dan harapan rakyat kecil. Kaum intelektual kampus tidak boleh terperangkap di dalam menara gading akademis, terlena oleh rutinitas formalitas organisasi, atau tersandera oleh budaya birokratis yang kaku,” tegas Ricki dalam keterangan persnya di Ambon, Rabu (4/11/2026).
Kebaikan Terorganisasi Melawan Ketidakadilan Sosial
Aktivis asal Bengkulu tersebut memaparkan bahwa lompatan peradaban menuntut aktivis mahasiswa untuk merapatkan barisan melalui konsolidasi kader yang rapi, memperluas daya jangkau manfaat sosial, serta memupuk kembali integritas moral dalam menyuarakan kebenaran di muka umum.
Bagi Ricki, konsistensi gerakan moral hanya akan bernilai apabila terstruktur secara disiplin demi mengimbangi berbagai bentuk penindasan hak warga.
“Kita tidak memiliki pilihan selain mengorganisasikan kebaikan secara terpadu. KAMMI berdiri di garda terdepan guna memastikan panji perlawanan terhadap kezaliman tetap berkibar tinggi. Kami bertekad melangkah seiring bersama rakyat dan mengorbankan segenap keringat perjuangan demi kemuliaan martabat bangsa dan umat,” lanjutnya.
Ia mengingatkan seluruh delegasi peserta muktamar bahwa gagasan “transformasi kebaikan” jangan sampai tereduksi sebatas retorika atau slogan panggung saat kongres tahunan berlangsung. Konsep perubahan tersebut wajib dimanifestasikan dalam bentuk aksi nyata di lapangan melalui pendampingan hukum dan advokasi warga, penguatan basis massa di tingkat komisariat kampus, serta penajaman wawasan intelektual kader.
Energi Pembaruan dari Bumi Maluku
Penyelenggaraan Muktamar XIV di Ambon dinilai memancarkan simbol perekat persatuan nasional. Jarak geografis dari ibu kota negara justru menjadi pelecut semangat bahwa denyut gerakan kepemudaan Islam hidup merata dari barat hingga timur kepulauan Nusantara.
Dari kepulauan rempah ini, Ricki mengajak seluruh jejaring pengurus wilayah dan daerah se-Indonesia untuk mengonversi hasil musyawarah menjadi bahan bakar konsolidasi gerakan yang inklusif dan berdaya tawar tinggi.
“Esensi transformasi kebaikan tidak semata-mata bersandar pada siapa sosok yang memegang tongkat komando kepemimpinan. Hakikat sejatinya bertumpu pada kesiapan seluruh kader untuk bergerak serempak, memastikan setiap tetes perjuangan kita benar-benar mendatangkan kebaikan konkret yang dirasakan oleh rakyat jelata dan umat secara luas,” tutup Ricki.[]












