SEANTERONEWS.com – Ambisi memindahkan infrastruktur komputasi awan ke luar angkasa mencatatkan lompatan bersejarah. Google berhasil merealisasikan uji coba pemrosesan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) langsung dari luar atmosfer bumi melalui proyek eksperimental bertajuk Project Suncatcher.
Untuk kali pertama, wahana satelit purwarupa bertenaga surya tersebut sukses menjalankan model AI dan memancarkan sinyal data kembali ke stasiun bumi dari orbit rendah bumi (low Earth orbit/LEO).
Pengujian dilakukan dengan mengeksekusi model bahasa bersumber terbuka (open-source) milik Google, Gemma 4, yang ditanamkan langsung pada cip akselerator mandiri Tensor Processing Unit (TPU) di dalam badan satelit. Saat melintasi stasiun penerima di atas Kepulauan Svalbard, kawasan Arktik Norwegia, sistem berhasil merespons instruksi peneliti dengan merangkai bait puisi haiku bertema kosmos:
“Blue marble below / Data streams in silent grace / Starlight feeds my core.”
(Kelereng biru di bawah / Arus data mengalir dalam keheningan / Cahaya bintang menghidupi intiku).
Satelit perdana Project Suncatcher tersebut sebelumnya meluncur ke orbit pada 1 Oktober 2026 melalui misi peluncuran bersama (rideshare) roket SpaceX, hasil kolaborasi teknis antara Google dan korporasi citra satelit Planet Labs.
Batu Loncatan Menuju Misi Satelit Kembar 2027
Keberhasilan transmisi ini membuktikan bahwa perangkat keras semikonduktor TPU mampu bertahan dan memproses beban kerja kecerdasan buatan yang kompleks di lingkungan antariksa. Hasil positif ini membuka jalan bagi rencana lanjutan Google untuk mengorbitkan sepasang satelit kembar yang saling terhubung (interconnected) pada tahun 2027.
Kendati demikian, Google mengakui tantangan rekayasa fisika menempatkan pusat data di orbit bumi tergolong sangat ekstrem. Perangkat elektronik di ruang hampa rentan terhadap kerusakan akibat paparan radiasi kosmik dan badai geomagnetik matahari.
Selain itu, ketiadaan sirkulasi udara normal menuntut sistem pendinginan (cooling system) termal non-konvensional, serta membutuhkan teknologi komunikasi antarsatelit berkecepatan tinggi tanpa latensi.
Pihak manajemen menekankan bahwa pengembangan sentra data antariksa skala industri tidak akan terwujud dalam semalam. Tahap awal ini difokuskan sebagai sarana observasi untuk mengidentifikasi potensi kelemahan perangkat keras sebelum melangkah ke misi berskala masif.
Perang Dingin Komputasi Orbit: Google, SpaceX, dan Bezos
Langkah Google kian memanaskan persaingan teknologi antariksa komersial. Raksasa teknologi dunia kini melirik ruang hampa udara sebagai alternatif masa depan guna mengatasi kendala keterbatasan pasokan energi listrik dan kebutuhan lahan pendingin pusat data di bumi.
Pada Januari 2026, SpaceX pimpinan Elon Musk telah mengajukan izin kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) untuk meluncurkan konstelasi hingga satu juta satelit komputasi guna menciptakan jejaring superkomputer global bertenaga surya.
Sementara itu, pendiri Amazon dan Blue Origin, Jeff Bezos, turut memproyeksikan bahwa pusat data orbital berskala gigawatt akan menjadi pilar utama pemrosesan data dunia dalam dua dasawarsa mendatang.
Menjawab peta persaingan tersebut, Google merancang cetak biru jangka panjang yang melibatkan pengoperasian armada konstelasi lebih dari 80 satelit yang terbang rapat dalam formasi sinkron. Perusahaan bahkan dikabarkan tengah berdiskusi dengan perancang kedirgantaraan untuk merekayasa struktur satelit modular khusus yang membentang seukuran lapangan sepak bola demi memanen energi matahari secara maksimal.











