PIDIE JAYA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang dipadukan dengan Haul ke-6 Almarhum Tgk. H. Saifuddin bin Basyah (Abon Panteraja) berlangsung khidmat di Kompleks Dayah Raudhatul Mukarramah Al-Aziziyah, Kecamatan Panteraja, Kabupaten Pidie Jaya, Senin (26/10/2026).
Kegiatan zikir dan doa bersama tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA., S.Sos., M.E. Turut mendampingi bupati dalam barisan kehormatan, antara lain Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya Dr. Munawar Ibrahim, S.Kp., MPH; Kepala Dinas Syari’at Islam Said Abdullah, S.Kp., M.PH; Kepala Badan Dayah; jajaran Kepala Bagian Kesra dan Prokopim; serta Pelaksana Harian (Plh) Camat Panteraja.
Peringatan enam tahun berpulangnya sang ulama kharismatik ini diposisikan sebagai ruang refleksi bersama atas dedikasi dan rintisan dakwah almarhum. Semasa hidupnya, Abon Panteraja dikenal teguh membangun ekosistem pendidikan dayah serta menyemarakkan syiar Islam di penjuru Pidie Jaya.
Menghidupkan Nilai Ikhlas dan Budi Pekerti
Dalam sambutannya di hadapan para santri dan tokoh masyarakat, Bupati Sibral Malasyi menekankan bahwa rangkaian Maulid dan Haul tidak boleh berhenti pada batas tradisi seremonial tahunan semata. Momen ini merupakan wadah spiritual untuk menyegarkan kembali teladan Rasulullah SAW sekaligus melanjutkan tongkat estafet perjuangan para ulama dalam membina moral umat.
“Fondasi keikhlasan, akhlak karimah, serta kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan harus terus dialirkan ke jiwa generasi muda. Nilai-nilai inilah yang akan membentuk generasi penerus daerah yang berakidah kokoh, berintegritas, dan memikul tanggung jawab sosial yang tinggi di tengah masyarakat,” tutur Sibral.
Bupati memandang pendidikan dayah sebagai benteng kultural terkuat di Aceh. Oleh karena itu, penguatan mentalitas dan budi pekerti para santri harus tetap menjadi prioritas kebijakan pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Harmonisasi Ulama, Umara, dan Masyarakat
Lebih jauh, Sibral berharap momentum peringatan haul ini kian merekatkan persaudaraan antara kalangan ulama, jajaran birokrasi pemerintahan, sivitas dayah, dan masyarakat luas. Kerja sama harmonis (umara dan ulama) dinilai menjadi kunci dalam membentengi identitas keislaman daerah dari arus degradasi moral modern.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memastikan warisan ilmu dan keteladanan yang ditinggalkan almarhum Abon Panteraja tetap berdenyut secara nyata. Menurutnya, penghormatan terbaik kepada sosok ulama adalah dengan merawat kesinambungan dayah yang ditinggalkannya serta mengamalkan petuah-petuahnya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari di Kabupaten Pidie Jaya.[]










