BREAKING

INTERNASIONAL

Diduga Matikan Radar Pelacak, Kapal Tanker Meledak Saat Masuki Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan meledak di Selat Hormuz setelah mematikan sistem pelacak. Ketegangan maritim antara AS dan Iran kian memanas.

SEANTERONEWS.com – Eskalasi keamanan di jalur distribusi minyak mentah terpenting dunia kembali bergolak. Sebuah kapal tanker pengangkut minyak dilaporkan mengalami ledakan sesaat setelah memasuki perairan Selat Hormuz. Insiden tersebut terjadi setelah kapal itu disinyalir sengaja menonaktifkan sistem pelacakan otomatisnya (Automatic Identification System/AIS).

Peristiwa ledakan kapal tersebut disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran pada Minggu (4/10/2026).

“Sebuah kapal tanker minyak meledak di Selat Hormuz setelah mematikan sistem pelacakannya saat memasuki koridor pelayaran strategis tersebut,” demikian kutipan laporan media penyiaran resmi Iran tersebut.

Hingga kini, otoritas setempat belum membeberkan nama maupun bendera kebangsaan kapal yang terlibat. Belum ada konfirmasi mengenai kepastian penyebab pemicu ledakan, kondisi fisik kapal pascainsiden, serta ada tidaknya korban luka maupun korban jiwa dari awak kapal.

Terdengar Dentuman dari Arah Pulau Qeshm

Sebelum pengumuman resmi di televisi, kantor berita Iran, Mehr News Agency, telah mengabarkan suara dentuman keras yang terdengar dari lepas pantai Pulau Qeshm sebuah pulau strategis Iran yang menghadap langsung ke Selat Hormuz.

Suara ledakan tersebut memicu spekulasi terkait adanya tembakan penegakan aturan dari otoritas perairan Iran terhadap kapal-kapal yang dianggap mengabaikan regulasi navigasi setempat. Kendati demikian, seluruh informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh badan pengawas maritim internasional, dan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan masih belum teridentifikasi secara jelas.

Saling Klaim di Balik Blokade Maritim

Insiden ledakan misterius ini mencuat berselang sehari setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan pernyataan publik mengenai situasi terkini di kawasan Teluk, Sabtu (3/10/2026). Hegseth menyatakan bahwa militer AS berhasil menguasai ruang udara Iran dan menjamin keamanan aliran minyak melewati Selat Hormuz. Ia bahkan mengeklaim laju pengiriman minyak mentah melalui selat sempit tersebut kini telah melampaui level normal sebelum konflik pecah.

Wilayah perairan Selat Hormuz memang menjadi panggung gesekan militer tingkat tinggi sepanjang tahun ini. Iran sempat memberlakukan pembatasan pelayaran komersial usai gelombang serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu.

Meskipun lalu lintas kapal sempat dibuka kembali lewat konsensus pada Juni, ketegangan kawasan kembali membuncah hingga mendorong Washington memberlakukan blokade laut mulai pertengahan Juli.

Berdasarkan laporan Komando Pusat AS (CENTCOM), militer AS telah mencegat sedikitnya 125 kapal niaga hingga batas 30 September demi menegakkan blokade perairan, dengan 10 kapal komersial di antaranya dipaksa berbalik arah dalam kurun waktu sepekan sebelumnya. Peristiwa ledakan tanker ini kian mempertebal kekhawatiran global terhadap keselamatan rute maritim yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia tersebut.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts