JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81, Tentara Nasional Indonesia (TNI) meneguhkan komitmen persatuan dan toleransi melalui munajat doa bersama lintas keyakinan. Kegiatan spiritual berskala besar ini dipusatkan di Lapangan Prima, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2026).
Sebanyak 2.000 peserta tampak larut dalam kekhidmatan acara tersebut. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto hadir langsung berbaur dengan prajurit tiga matra, aparatur sipil negara (ASN) TNI, anggota Komponen Cadangan (Komcad), serta anak-anak yatim.
Agenda doa bersama lintas agama ini menjadi sarana perekat persaudaraan antara institusi garda terdepan pertahanan negara dengan segenap lapisan masyarakat dari pelbagai latar belakang keyakinan.
Keharmonisan Enam Pemuka Agama di Mabes TNI
Potret kemajemukan Nusantara tampak nyata saat enam pemuka agama bergantian memimpin doa sesuai ajaran masing-masing.
Doa umat Islam dilantunkan oleh pendakwah Ustadz Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. Dari kalangan Kristiani, doa dipimpin oleh Pendeta Cipto Martalu Sapangi untuk umat Protestan dan Romo Paulus Ardhi untuk umat Katolik.
Sementara itu, perwakilan pemuka agama lainnya meliputi Pinandita Astono Chandra Dana mewakili umat Hindu, KRT Asun Gotama dari perwakilan Buddha, serta JS. Ruysyasupit, S.Ikom., yang memimpin doa untuk umat Konghucu.
Aktualisasi Pancasila dan Fondasi Spiritual Prajurit
Mewakili para pemuka agama, Ustadz Adi Hidayat menggarisbawahi pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam denyut kehidupan bernegara.
Menurutnya, ketangguhan fisik dan strategi militer seorang prajurit wajib ditopang oleh kedalaman nilai keagamaan saat mengemban mandat menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Menjelang HUT ke-81 TNI, mari kita bersama-sama mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Ustadz Adi Hidayat.
Ia juga mengajak seluruh tokoh agama untuk terus merawat sinergi sosial demi mengawal ketenteraman masyarakat sekaligus membentengi spiritualitas prajurit di medan tugas.
Mengukuhkan Kebersamaan Menuju Usia ke-81 Tahun
Pertemuan ini membuktikan bahwa persatuan Indonesia berakar dari ruang-ruang dialog yang inklusif dan saling menghargai. Hubungan emosional antara TNI dan rakyat pun semakin terjalin erat lewat momentum penuh kehangatan ini.
Memasuki usia ke-81, tantangan pertahanan nasional kian dinamis seturut perubahan geopolitik kawasan.
Kendati demikian, Mabes TNI meyakini fondasi pertahanan yang paling kokoh tidak hanya dibangun melalui kesiapan alutsista, melainkan bertumpu pada keutuhan rakyat yang menjunjung tinggi kerukunan dan persaudaraan.[]









