BREAKING

EKONOMI

Prabowonomics dan Kunci Target Ekonomi 8 Persen RI

Wamenperin Faisol Riza tegaskan industrialisasi dan Prabowonomics jadi kunci kejar pertumbuhan ekonomi 8 persen.

JAKARTA – Transformasi sektor industri manufaktur diposisikan sebagai motor utama untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi nasional hingga menyentuh angka 8 persen. Target ambisius pada era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tersebut dinilai hanya dapat tercapai apabila ditopang oleh kemandirian pasokan dan lompatan adopsi teknologi.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam diskusi publik bertajuk “Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis & Prabowonomics” di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Kegiatan ilmiah ini digelar sebagai bentuk konsolidasi pemikiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjelang dua tahun masa bakti pemerintahan Presiden Prabowo. Sejumlah pakar ekonomi terkemuka turut hadir sebagai pembicara, antara lain Burhanuddin Abdullah, Didik J. Rachbini, Candra Wijaya, serta Poltak.

Faisol menjelaskan bahwa paradigma Prabowonomics dirancang sebagai jembatan kompromi yang menyelaraskan nilai-nilai ekonomi UUD 1945 dengan dinamika perekonomian global maupun domestik.

Menurutnya, hampir mustahil sebuah negara mampu meraih kemakmuran tanpa didukung oleh fondasi industri yang perkasa. Dua prasyarat mutlak yang wajib dipenuhi adalah kedaulatan penyediaan bahan mentah serta penguasaan teknologi secara mandiri.

“Kemandirian bahan baku dan penguasaan teknologi menjadi kunci utama industri nasional. Apabila dua faktor ini terjamin, target pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagaimana dipaparkan Pak Burhanuddin Abdullah dapat kita capai,” tutur Faisol.

Guna mempercepat industrialisasi di dalam negeri, pemerintah bergerak aktif menjalin kemitraan rantai pasok dengan negara-negara industri raksasa dunia.

Langkah strategis ini menjadi salah satu misi utama di balik agenda lawatan bilateral Presiden Prabowo ke berbagai belahan dunia.

Inisiatif tersebut ditujukan agar program hilirisasi sumber daya alam Indonesia tidak berdiri terisolasi, melainkan terhubung langsung dengan jejaring rantai pasok manufaktur internasional.

Di sisi lain, Faisol menggarisbawahi urgensi pembentukan bursa komoditas strategis demi menjaga kepastian pasokan material produksi bagi pabrik-pabrik lokal.

Ia mencontohkan komoditas batu bara yang semestinya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sumber energi kelistrikan, melainkan diolah menjadi bahan baku melalui teknologi gasifikasi.

Pasalnya, industri manufaktur membutuhkan gas dalam volume masif, baik sebagai tenaga penggerak maupun komponen dasar formulasi kimia. Salah satu contoh nyatanya adalah pembuatan serat poliester untuk industri tekstil yang bersumber dari olahan gas dan minyak bumi.

Keberlanjutan jaminan pasokan bahan baku kimia terintegrasi inilah yang dipandang Faisol sebagai kunci benteng pertahanan ekosistem industri nasional ke depan.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts