JAKARTA – Tren positif pertumbuhan arus peti kemas di kawasan timur Indonesia rupanya menyisakan pekerjaan rumah yang mendesak. Ekosistem rantai pasok dinilai belum berjalan seimbang lantaran kesiapan infrastruktur simpul darat, khususnya depo kontainer eksternal, masih sangat terbatas.
Dampak dari ketimpangan infrastruktur ini paling dirasakan oleh para pelaku pelayaran. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Hermoko, menyoroti ketiadaan depo backup di luar area pelabuhan sebagai kendala krusial.
“Saat ini, seluruh aktivitas penumpukan peti kemas di Merauke seratus persen terpusat di dalam pelabuhan. Idealnya, kontainer harus bisa didistribusikan ke depo penyangga di luar kawasan agar sirkulasi pelabuhan tidak mandek,” jelas Puji dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Imbas dari ruang penumpukan yang sesak ini memicu efek domino berupa lonjakan biaya logistik. Puji mengungkapkan, pihak SPIL bahkan terpaksa menurunkan muatan di Timika terlebih dahulu untuk digabung dengan kapal lain menuju Merauke. Manuver ini tidak hanya memperpanjang rantai distribusi, tetapi juga mengancam kualitas komoditas, terutama muatan pangan yang rentan rusak. Pihaknya sangat menantikan intervensi dari pemerintah daerah tingkat kabupaten maupun provinsi untuk memfasilitasi pembangunan depo eksternal.
Revitalisasi Terminal dan Kendala Infrastruktur Jalan
Merespons jeritan pelaku usaha, pihak pengelola Terminal Peti Kemas (TPK) Merauke tidak tinggal diam. Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, memaparkan bahwa pihaknya tengah mematangkan megaproyek revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare.
“Fokus pekerjaan ini mencakup perbaikan akses, penguatan struktur tanah, serta penyiapan jalur untuk alat berat Rubber Tyred Gantry Crane (RTG). Dengan hadirnya RTG, kapasitas penumpukan peti kemas secara vertikal (ke atas) akan meningkat drastis. Saat ini, proses lelang sedang berjalan di kantor pusat,” papar Rasul.
Terkait desakan pembangunan depo di lini dua (luar pelabuhan), Rasul sepenuhnya sependapat. Keberadaan depo tersebut mutlak diperlukan agar ruang operasional terminal tidak kelebihan beban. Namun, rencana ini terbentur iklim investasi dan kapasitas infrastruktur jalan raya.
“Kami mendorong perusahaan pelayaran untuk membangun depo eksternal. Pemda sebenarnya sudah menawarkan lahan. Namun tantangannya ada pada nilai investasi dan daya dukung jalan raya saat kontainer melintas keluar pelabuhan,” urainya. Saat ini, Rencana Induk Pelabuhan (RIP) jangka pendek hingga panjang sedang disusun bersama Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk mengurai benang kusut tersebut.
Makassar Sebagai Hub dan Kewaspadaan Ambon
Pentingnya kelancaran simpul darat juga menjadi atensi utama di TPK New Makassar. Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, menegaskan posisi vital wilayahnya sebagai hub (pusat penghubung) utama distribusi logistik menuju seluruh penjuru timur Indonesia.
Teguh menjelaskan, Pelindo sejauh ini sukses menjaga performa alat bongkar muat di dermaga. Namun, ia memperingatkan bahwa kecepatan bongkar muat di sisi laut akan percuma jika pergerakan truk dan kontainer di sisi darat mengalami kemacetan.
“Kelancaran logistik itu bukan cuma soal seberapa cepat kita menurunkan barang dari kapal. Kesinambungan pergerakan peti kemas saat keluar dari terminal menuju simpul berikutnya adalah kunci utama. Sinergi antara operator, shipping line, perusahaan truk, dan pemilik barang tidak boleh putus,” tegas Teguh.
Di tempat terpisah, TPK Ambon menerapkan strategi antisipatif untuk mencegah terjadinya bottleneck (leher botol) di sisi darat. Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi, menuturkan bahwa evaluasi berkala dengan para stakeholder terus diintensifkan.
Guna mengimbangi tren kenaikan volume kargo, Yandi menekankan perlunya peremajaan peralatan operasional pelabuhan secara berkala. Selain itu, kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Ambon juga tengah dijajaki guna memperluas kapasitas lapangan penumpukan peti kemas di wilayah tersebut.
Ekosistem logistik yang sehat menuntut pertumbuhan yang simetris. Ketika volume laut meningkat, kapasitas darat harus siap menyambut. Tanpa sinergi tersebut, cita-cita menekan biaya logistik di timur Indonesia akan sulit direalisasikan.[]












1 Comment