LINGKUNGAN

Sampah Kita Tidak Pernah Pergi, Ia Hanya Pulang dalam Bentuk Lain

SUATU pagi di Oktober 2025, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan sesuatu yang mengganggu di langit Jakarta: air hujan yang jatuh ke kota ini mengandung partikel mikroplastik. Bukan di laut, bukan di sungai melainkan di udara yang kita hirup dan air yang jatuh ke atap rumah kita. Temuan itu bukan kejutan bagi siapa pun yang mengikuti jejak sampah plastik di Indonesia selama satu dekade terakhir. Ia hanya mengonfirmasi apa yang selama ini kita coba abaikan: sampah yang kita buang tidak pernah benar-benar pergi. Ia berkeliling, berubah bentuk, lalu kembali ke sungai, ke laut, ke udara, dan pada akhirnya, ke tubuh kita sendiri.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, pada 2024 Indonesia menghasilkan 31,2 juta ton sampah dari 286 kabupaten/kota, dan hampir seperlima dari jumlah itu 19,73 persen adalah sampah plastik. Plastik kini menjadi penyumbang terbesar kedua timbulan sampah nasional, tepat di bawah sisa makanan.

Persoalannya bukan cuma volume, tapi ke mana sampah itu pergi setelah kita buang. Kemampuan pemerintah melayani pengelolaan sampah penduduk saat ini diperkirakan baru menjangkau sekitar 40 persen populasi, menurut pendiri Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Prigi Arisandi. Sisanya? Menumpuk liar, dibakar di halaman belakang, atau hanyut ke sungai dan pada akhirnya ke laut.

Inilah yang membuat sungai-sungai di Indonesia, kata Ecoton, “banjir mikroplastik” bukan karena warganya gemar buang sampah sembarangan, melainkan karena infrastruktur pengelolaan sampah yang jauh tertinggal dari laju timbulannya. Sampah bukan sekadar dibuang lalu selesai; ia dibuang lalu dibiarkan, dan yang dibiarkan itu punya cara sendiri untuk kembali.

Bukti paling nyata datang dari perairan yang seharusnya menjadi kebanggaan Jakarta: Kepulauan Seribu. Pengujian yang dilakukan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) di Pulau Untung Jawa, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir menemukan fakta yang sulit dibantah: seluruh sampel air yang diuji mengandung serpihan mikroplastik. Pada sampel sedimen pantai, kelimpahan mikroplastik ditemukan berkisar dari 16.667 hingga 700 partikel per kilogram.

Ini bukan sekadar berita lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kepulauan Seribu adalah kawasan tangkapan ikan dan destinasi wisata yang dikunjungi ratusan ribu warga Jakarta setiap tahun. Ketika perairan di halaman belakang ibu kota sendiri sudah tercemar mikroplastik, jarak antara “masalah lingkungan” dan “meja makan keluarga Indonesia” tiba-tiba menjadi sangat pendek.

Riset dari luar negeri memperkuat kekhawatiran ini. Kajian ilmiah terbaru menunjukkan mikroplastik telah terdeteksi luas pada organisme laut di berbagai tingkat rantai makanan, mulai dari plankton hingga predator besar, dengan dampak mulai dari gangguan saluran cerna hingga paparan aditif kimia berbahaya (Avio et al., 2017; Miller et al., 2020). Satu studi bahkan menemukan 95 persen sampel dalam satu jejaring makanan laut mengandung mikroplastik, dengan konsentrasi tertinggi justru pada predator puncak—kelompok ikan yang paling sering berakhir di piring manusia (Nikhil et al., 2025).

Ada anggapan keliru yang masih dipegang banyak orang Indonesia: begitu sampah diangkut truk dan sampai di tempat pembuangan akhir (TPA), urusan selesai. Riset terbaru justru menunjukkan sebaliknya. TPA bukanlah kuburan sampah yang tenang, melainkan semacam “reaktor” lingkungan yang terus berubah secara fisik, kimia, dan biologis bertahun-tahun setelah sampah dikubur (Derias et al., 2026). Semakin lama sampah tertimbun, semakin dominan pula fraksi plastik dan tekstil di dalamnya—karena bahan organik cepat terurai, sementara plastik nyaris tidak.

Proses ini melepaskan konsekuensi jangka panjang: aditif kimia beracun, senyawa pengganggu hormon, dan air lindi yang membawa amonium serta logam berat, yang berpotensi mencemari air tanah di sekitar lokasi pembuangan bahkan puluhan tahun setelah TPA ditutup (Huang et al., 2024; Redko et al., 2023). Bagi kota-kota di Indonesia yang TPA-nya sudah kelebihan kapasitas—dari Bantargebang di Bekasi hingga TPA-TPA di kota-kota kecil yang minim pengawasan ini bukan skenario hipotetis, melainkan risiko yang sedang berjalan.

Sementara itu, ketika sampah dibakar cara paling umum digunakan warga yang tidak terjangkau layanan pengangkutan sampah—ia justru menjadi sumber utama distribusi mikroplastik ke udara. Riset memetakan lima daerah dengan kontaminasi mikroplastik udara tertinggi di Indonesia: Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Bandung, Semarang, dan Kupang. Partikel-partikel ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat pernapasan, sebuah jalur paparan yang jarang dibayangkan orang saat mereka membakar sampah di halaman rumah.

Di tingkat global, negosiasi perjanjian plastik internasional di bawah PBB telah berjalan sejak 2022 dan masih menemui jalan buntu hingga pertengahan 2026, dengan harapan baru justru digantungkan pada putaran perundingan berikutnya. Selama dunia menunggu kesepakatan besar itu rampung, sampah di sungai-sungai dan udara Indonesia tidak menunggu siapa pun.

Kabar baiknya, sejumlah daerah sudah bergerak lebih dulu. Setidaknya 75 kota, kabupaten, dan provinsi di Indonesia kini memiliki regulasi pengurangan plastik sekali pakai dari Peraturan Wali Kota di Surabaya hingga kebijakan serupa di daerah lain. Ini langkah di hulu yang jauh lebih murah dan efektif dibanding membersihkan mikroplastik yang sudah telanjur menyebar di laut dan udara.

Namun regulasi lokal saja tidak cukup selama layanan pengangkutan sampah baru menjangkau separuh populasi dan TPA-TPA terus menerima beban yang melampaui kapasitasnya. Yang dibutuhkan adalah kombinasi tiga hal sekaligus: perluasan infrastruktur pengelolaan sampah hingga menjangkau seluruh warga, penegakan aturan yang menekan produksi plastik sekali pakai dari hulu, serta edukasi publik bahwa membakar sampah bukan solusi, melainkan cara memindahkan racun dari tanah ke udara yang kita hirup bersama.

Kita sering membayangkan krisis lingkungan sebagai sesuatu yang terjadi jauh dari kita di kutub yang mencair, di hutan yang terbakar. Tapi kisah sampah plastik Indonesia menunjukkan hal yang lebih dekat dan lebih mengganggu: krisis itu ada di air hujan yang jatuh ke atap rumah kita di Jakarta, di ikan yang kita beli dari perairan Kepulauan Seribu, dan di udara yang kita hirup setiap kali tetangga membakar sampah di halaman belakang. Sampah yang kita buang hari ini tidak menghilang. Ia hanya menunggu waktu untuk pulang. (*)

Sumber

Avio, C., Gorbi, S., & Regoli, F. (2017). Plastics and microplastics in the oceans. Marine Environmental Research, 128, 2–11.

Derias, F. Z., Abdelouahed, L., Radji, G., & Belmissoum, G. (2026). Temporal evolution of physico-chemical characteristics of buried municipal solid waste in a semi-arid Mediterranean region landfill. Journal of Environmental Management, 402, 129081.

Huang, Z., Liu, G., Zhang, Y., Yuan, Y., Xi, B., & Tan, W. (2024). Assessing the impacts and contamination potentials of landfill leachate on adjacent groundwater systems. Science of the Total Environment, 172664.

Miller, M., Hamann, M., & Kroon, F. (2020). Bioaccumulation and biomagnification of microplastics in marine organisms. PLoS ONE, 15.

Nikhil, V., Abisha, C., Raghavan, R., Ph, A., K, R., & Varghese, G. (2025). Bioaccumulation and trophic transfer of microplastics in oceanic food webs. Marine Pollution Bulletin, 224, 119113.

Redko, V., Wolska, L., Potrykus, M., Olkowska, E., Cieszyńska-Semenowicz, M., & Tankiewicz, M. (2023). Environmental impacts of 5-year plastic waste deposition on municipal waste landfills. Science of the Total Environment, 167710.

Data dan pernyataan mengenai kondisi Indonesia dirujuk dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, riset Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) di Kepulauan Seribu, pernyataan Ecological Observation

image_print
author avatar
Syarifudin Brutu
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts