SEANTERONEWS.com – Di tengah ambisi besar menyongsong visi Generasi Emas 2045, sebuah narasi satir bernada getir mencuat dari pelosok-pelosok daerah yang rutin dikepung kebakaran hutan dan lahan (karhutla): Indonesia sedang menyiapkan “Generasi Pisang Sale”.
Istilah ini bukan mengacu pada hilirisasi komoditas pangan, melainkan metafora pahit perihal nasib jutaan anak di Sumatra dan Kalimantan yang saban tahun dipaksa menghirup jerebu pekat. Layaknya proses pembuatan penganan pisang sale yang diawetkan lewat pengasapan berhari-hari di atas bara, tumbuh kembang anak-anak di kawasan terdampak kini perlahan “diasapi” oleh partikulat beracun akibat pembakaran gambut yang tak kunjung padam secara permanen.
‘Pengasapan’ Perlahan yang Menggerogoti Paru-Paru
Dalam tradisi kuliner, pengasapan bertujuan menarik kadar air hingga buah mengering dan awet. Namun ketika analogi ini terjadi pada tubuh manusia, dampaknya adalah bencana biologis.
Setiap kali musim kemarau tiba, langit di berbagai wilayah seperti Kalimantan Tengah, Riau, hingga Jambi berubah kelabu pekat. Anak-anak balita hingga usia sekolah menghirup partikulat halus berukuran PM2,5 bersama koktail gas beracun—mulai dari karbon monoksida, sulfur dioksida, hingga senyawa karsinogenik polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH).
Data fasilitas kesehatan di daerah terdampak secara konsisten mencatat lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma kronis, hingga iritasi mata setiap siklus asap bergulir. Partikel mikro yang terhirup tidak sekadar singgah di saluran napas atas, melainkan menembus kantung alveoli dan menyusup ke peredaran darah, merusak fungsi organ tubuh yang tengah berada pada masa emas perkembangan.
Ancaman Intelektual di Balik Jerebu Pekat
Ancaman terhadap generasi yang terus “diasapi” ini melampaui urusan sesak napas jangka pendek. Riset medis dan neurosains global membuktikan bahwa paparan polusi pembakaran biomassa gambut secara berkala pada usia dini berdampak buruk pada fungsi kognitif, daya ingat, dan fokus belajar anak.
Saat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada level berbahaya, hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan langsung terenggut. Sekolah-sekolah terpaksa meliburkan aktivitas tatap muka atau memaksakan proses belajar di dalam ruang kelas berdinding tripleks yang tak mampu membendung partikel asap.
Kondisi tersebut melahirkan paradoks tajam: negara menargetkan terciptanya sumber daya manusia unggul yang berdaya saing global, namun fondasi biologis anak-anak di daerah lumbung asap justru dirongrong oleh residu karbon sejak mereka mengambil tarikan napas pertama.
Mengakhiri ‘Dapur Asap’ di Hutan Gambut
Satir “generasi pisang sale” sejatinya adalah jeritan darurat terhadap lambannya pemulihan tata kelola ekologis. Karhutla bukan bencana alamiah, melainkan bencana ekologis buatan manusia yang kerap dipicu oleh pengeringan kubah gambut demi ekspansi konsesi dan pembukaan lahan secara murah.
Kendati pemerintah kerap mengumumkan pembekuan izin korporasi hingga pengerahan helikopter pengebom air (water bombing), api di bawah permukaan tanah gambut terus menyala dalam senyap—mengepulkan asap pekat yang mengorbankan masa depan anak-anak di sekitarnya.
Menyelamatkan generasi masa depan dari nasib menjadi “generasi yang diasapi” menuntut keberanian hukum yang nyata: penegakan sanksi pidana tanpa pandang bulu terhadap korporasi pelanggar, moratorium deforestasi yang konsisten, serta pemulihan hidrologis gambut secara masif. Tanpa langkah struktural yang radikal, mimpi Indonesia Emas dikhawatirkan terkikis menjadi ironi kelam generasi yang paru-parunya hangus terpapar bara kejahatan lingkungan.[]











