SEANTERONEWS.com – Transformasi energi nasional melalui program mandatori Biodiesel 50 persen (B50) menunjukkan progres penetrasi yang sangat agresif. Sejak resmi diberlakukan pada Juli 2026, volume penyaluran bahan bakar nabati ramah lingkungan ini terus merangkak naik, menyentuh angka 3,4 juta kiloliter (KL) hingga Senin (7/9/2026).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memaparkan bahwa lonjakan distribusi B50 tersebut turut mendongkrak akumulasi penyerapan biodiesel nasional. Sepanjang tahun 2026, total bahan bakar nabati yang telah terserap pasar mencapai 10,69 juta KL.
Angka akumulasi tersebut mencakup 7,273 juta KL penyaluran B40 yang didistribusikan pada semester pertama, sebelum pemerintah secara resmi meningkatkan rasio bauran minyak sawit menjadi 50 persen pada paruh kedua.
“Dengan total serapan yang sudah mencapai 10,69 juta kiloliter saat ini, kami sangat optimistis tren penyalurannya akan terus berjalan lancar hingga akhir Desember nanti,” ungkap Eniya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Kesiapan Infrastruktur Tembus 94 Persen
Keberhasilan penetrasi B50 tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur di tingkat hilir. Berdasarkan data pemerintah, saat ini terdapat 104 titik serah (terminal) yang difungsikan untuk mendistribusikan B50. Dari jumlah tersebut, 76 terminal telah beroperasi penuh, sementara 28 sisanya tengah dikebut untuk merampungkan masa transisi dari sistem B40.
Kabar menggembirakan datang dari jaringan ritel. Tercatat, sebanyak 6.050 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah menjajakan Biodiesel B50 kepada konsumen akhir.
“Jika kita merujuk pada data jaringan SPBU milik Pertamina Patra Niaga di seluruh Indonesia, cakupan 6.050 stasiun ini membuktikan bahwa 94 persen SPBU di Tanah Air sudah sukses menyalurkan B50,” tegas Eniya.
Meskipun demikian, pemerintah menyadari bahwa harmonisasi distribusi belum mencapai titik 100 persen. Masih terdapat 362 SPBU yang saat ini sedang dalam proses penyesuaian teknis untuk menyambut peralihan menuju B50.
Substitusi Setara Setengah Produksi Minyak Nasional
Lebih dari sekadar memodifikasi racikan bahan bakar, peningkatan bauran biodiesel ini memikul misi strategis makroekonomi: memutus ketergantungan Indonesia terhadap solar impor dan menyelamatkan cadangan devisa negara.
Kementerian ESDM mengkalkulasi, apabila target pemanfaatan biodiesel sebesar 18 juta KL pada tahun ini tercapai, maka negara akan mampu menghemat penggunaan bahan bakar fosil yang setara dengan 310.000 barel per hari (barrel per day/bpd).
“Penghematan 310.000 barel per hari ini dampaknya sangat masif. Mengingat lifting (produksi) minyak mentah domestik kita saat ini berada di kisaran 610.000 barel per hari, itu artinya subtitusi dari energi nabati ini sudah berhasil menyamai separuh dari total produksi minyak nasional,” papar Eniya memberikan gambaran.
Tantangan Rantai Pasok di Hulu
Meski jaringan distribusi hilir hampir rampung, tantangan utama program ini kini bergeser ke sektor hulu. Pemerintah harus menjamin kesinambungan pasokan bahan baku utama, yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME) turunan kelapa sawit.
Guna mengamankan stok di lebih dari enam ribu SPBU, pemerintah telah mematok target ketersediaan FAME dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) di rentang 16,8 juta hingga 18 juta KL hingga tutup tahun 2026. Pasokan hulu yang stabil menjadi kunci agar pelayanan masyarakat di hilir tidak mengalami guncangan atau kelangkaan.
Memasuki kuartal terakhir 2026, pekerjaan rumah pemerintah dan badan usaha tidak lagi sebatas menyosialisasikan program, melainkan menjaga pengawasan mutu teknis secara ketat. Sisa 6 persen SPBU yang masih dalam tahap transisi harus segera diselesaikan dengan standar kelayakan yang seragam.
Program Biodiesel B50 kini telah menjelma menjadi fondasi krusial bagi ketahanan energi Indonesia. Di tengah dinamika pasokan serta volatilitas harga minyak global, keberanian memaksimalkan sumber daya domestik ini menjadi perisai terbaik bangsa menuju kemandirian energi yang sesungguhnya.[]










