SEANTERONEWS.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi perhatian serius pemerintah seiring dengan menguatnya fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menetapkan empat provinsi sebagai fokus utama penanganan karena memiliki konsentrasi titik panas (hotspot) yang tinggi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Sabtu (22/8/2026), memaparkan bahwa Kalimantan Barat saat ini menduduki posisi puncak dengan jumlah titik panas terbanyak di Indonesia. Selain Kalimantan Barat, tiga wilayah lainnya yang masuk dalam daftar prioritas adalah Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
Berdasarkan analisis terbaru BMKG, potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan masih minim di sebagian besar wilayah Indonesia dalam 10 hari ke depan. Wilayah yang terdampak meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, hingga sebagian Papua.
Faisal menjelaskan bahwa kondisi kering ini menuntut kewaspadaan tinggi dari pemerintah daerah dan masyarakat. Prediksi musim hujan dengan intensitas yang lebih luas baru akan mulai terjadi pada pertengahan Oktober mendatang. “Kondisi ini mengharuskan kita untuk tetap waspada terhadap risiko kekeringan dan karhutla sebelum musim hujan benar-benar tiba di pertengahan Oktober nanti,” ujar Faisal.
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah melalui instansi terkait tengah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini tidak hanya ditujukan untuk pemadaman titik api di wilayah karhutla, tetapi juga sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air bagi daerah-daerah yang dilanda kekeringan.
“Operasi modifikasi cuaca sepanjang Agustus ini bersifat multifungsi. Kami menyasar wilayah yang terdampak karhutla seperti Riau, sekaligus membantu pengisian waduk di Jawa Barat dan Bendungan Sepaku Semoi di IKN yang mulai mengalami penurunan debit air,” tambah Faisal.
BMKG terus berkoordinasi dengan BNPB dan otoritas terkait untuk memastikan informasi cuaca diterjemahkan menjadi tindakan preventif di lapangan. Deteksi dini melalui pantauan satelit dilakukan setiap hari guna memberikan data akurat bagi tim pemadam di lapangan.
Pemerintah menghimbau masyarakat di daerah rawan karhutla untuk menghindari aktivitas pembakaran lahan, terutama selama masa puncak kemarau ini. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak El Nino, guna memastikan kesehatan udara tetap terjaga dan potensi bencana lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin sebelum memasuki musim penghujan.[]









