SEANTERONEWS.com – Kualitas udara di wilayah Sarawak, Malaysia, memburuk drastis akibat kiriman asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Dampak ini memaksa Departemen Pendidikan Sarawak mengambil langkah darurat dengan meliburkan 591 sekolah di 10 distrik selama dua hari guna melindungi kesehatan para pelajar.
Kebijakan ini berdampak pada 197.323 siswa, yang terdiri dari murid sekolah dasar dan menengah. Selama penutupan berlangsung, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran dari rumah atau Home-Based Teaching and Learning (PdPR) untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan tanpa harus memaparkan siswa pada udara yang berbahaya.
Kualitas Udara dalam Kategori “Tidak Sehat”
Langkah preventif ini diambil menyusul peningkatan Indeks Polusi Udara (Air Pollutant Index/API) di sejumlah wilayah Sarawak yang menembus kategori “tidak sehat”. Bahkan, pada Kamis (20/8/2026), wilayah Serian sempat menyentuh kategori “sangat tidak sehat” dengan angka API mencapai 204. Sementara itu, Kuching mencatatkan API 195, Samarahan 182, Sri Aman 179, Sarikei 158, dan Sibu 152.
Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak (NREB) memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi bertahan dalam beberapa hari ke depan. Hal ini sangat bergantung pada intensitas aktivitas pembakaran biomassa di wilayah Kalimantan yang masih terus terjadi.
Ancaman Asap Lintas Batas
Berdasarkan laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), sebanyak 7.286 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Kalimantan sepanjang periode 1 hingga 19 Agustus 2026. Angka ini jauh melampaui titik panas yang tercatat di wilayah Sarawak, yang hanya berjumlah 148 titik.
Pergerakan angin yang membawa asap dari Kalimantan Barat ke arah utara menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara di wilayah barat Sarawak. NREB menyatakan bahwa kabut asap tidak mengenal batas administratif, sehingga pergerakan angin dapat dengan mudah membawa polutan melintasi perbatasan antarnegara.
Evaluasi Terhadap Risiko Regional
Penutupan ratusan sekolah di Sarawak menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memiliki dimensi regional. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan sekadar isu domestik, melainkan tantangan yang memengaruhi kesehatan dan aktivitas masyarakat di negara tetangga.
Pemerintah setempat melalui NREB terus memantau perkembangan titik api dan arah angin. Kewaspadaan ditingkatkan mengingat kondisi kering berkepanjangan dapat mempercepat penyebaran titik api. Sinergi dan kepatuhan dalam pengendalian karhutla di wilayah sumber menjadi kunci utama agar dampak polusi lintas batas tidak semakin luas dan berlarut-larut bagi kesehatan masyarakat di kawasan ASEAN.[]










So,I like it