JAKARTA – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI tengah melakukan lompatan besar dalam sistem pengawasan pemilu melalui transformasi digital yang inklusif. Melalui program Bawaslu Kampus Connect yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (12/8/2026), Bawaslu menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia akademik dalam mengawal demokrasi di era teknologi.
Anggota Bawaslu RI, Puadi, menegaskan bahwa paradigma pengawasan pemilu harus bertransformasi dari metode konvensional yang reaktif menjadi sistem berbasis data yang prediktif. Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi kunci untuk memetakan potensi risiko pelanggaran sebelum benar-benar terjadi di lapangan.
Manusia Sebagai Penentu Utama Teknologi
Meski teknologi menjadi instrumen utama dalam transformasi ini, Puadi mengingatkan bahwa alat canggih tidak akan memiliki makna tanpa integritas manusia yang mengoperasikannya. Ia merujuk pada konsep code as regulation dari Lawrence Lessig, yang menegaskan bahwa desain teknologi harus tetap berpijak pada etika, transparansi, dan keadilan.
“Ke depan, Bawaslu tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara klasik. Namun, perlu diingat bahwa teknologi hanyalah instrumen. Penentu utama dalam menjaga demokrasi yang bermartabat tetaplah integritas manusia,” ujar Puadi dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Mahasiswa Sebagai Agen Literasi Digital
Program Bawaslu Kampus Connect ini menempatkan mahasiswa sebagai mitra strategis. Bawaslu berharap mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga agen literasi digital yang aktif menangkal hoaks serta ujaran kebencian yang sering memicu polarisasi saat musim pemilu.
Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod Albarbasy, bersama peneliti senior BRIN, Prof. Siti Zuhro, turut hadir memberikan dukungan terhadap inisiatif ini. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dinilai sangat efektif untuk memperluas partisipasi publik dalam mengawal proses demokrasi.
“Mahasiswa adalah agen perubahan yang sangat strategis. Kami membutuhkan kolaborasi ini agar pengawasan pemilu menjadi lebih partisipatif, di mana masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk ikut mengawal integritas demokrasi,” tambah Puadi.
Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam ekosistem Bawaslu Kampus Connect, Bawaslu RI optimis dapat menciptakan sistem pengawasan yang lebih objektif, transparan, dan mudah dipertanggungjawabkan. Inisiatif ini menjadi langkah konkret dalam menyambut masa depan demokrasi Indonesia yang lebih cerdas, aman, dan berintegritas di tengah arus digitalisasi yang tak terelakkan.[]











