YOGYAKARTA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali dilaporkan menunjukkan tren peningkatan. Pada Kamis malam kemarin (2/7/2026), gunung api aktif tersebut meluncurkan guguran awan panas (pyroclastic flow) dengan jarak luncur mencapai sekitar 1,8 kilometer ke arah barat daya.
Berdasarkan laporan pemantauan dari Badan Geologi, pelepasan awan panas guguran tersebut terjadi menjelang tengah malam, tepatnya pada pukul 23.58 WIB. Aliran material vulkanik terpantau mengarah menuju kawasan hulu Kali Sat dan Kali Putih dengan jarak luncur estimasi sejauh 1.800 meter dari puncak kawah.
Data seismogram mencatat peristiwa guguran ini memiliki kekuatan amplitudo maksimum sebesar 53,05 milimeter dengan durasi gempa guguran selama 92,91 detik. Rekaman visual malam hari yang dibagikan Badan Geologi memperlihatkan luncuran material pijar berwarna kuning kemerahan yang menuruni lereng gunung mengikuti kontur lembah sungai di bawahnya.
Merespons perkembangan aktivitas kegunungapian ini, Badan Geologi mengimbau warga setempat maupun para wisatawan agar mensterilkan diri dari zona bahaya yang telah direkomendasikan. Wilayah bantaran sungai yang memiliki hulu langsung di kawah puncak Merapi menjadi area yang wajib dihindari guna mengantisipasi ancaman awan panas maupun potensi aliran lahar dingin.
“Masyarakat diimbau kuat untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi seluruh rekomendasi resmi yang dikeluarkan otoritas,” rilis pihak Badan Geologi.
Jalur Pendakian Tetap Ditutup Total
Hingga saat ini, status kebencanaan Gunung Merapi masih bertahan pada Level III (Siaga). Tingkat aktivitas ini mengharuskan warga yang bermukim di lereng Merapi untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan mandiri terhadap ancaman muntahan lava pijar dan awan panas yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sejalan dengan ketetapan status tersebut, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa seluruh rute pendakian menuju puncak Gunung Merapi masih ditutup secara total demi keselamatan publik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengingatkan bahwa potensi terjadinya erupsi yang bersifat eksplosif masih dapat terjadi sewaktu-waktu. Apabila skenario letusan eksplosif tersebut muncul, lontaran material batu pijar diperkirakan sanggup menjangkau radius hingga tiga kilometer dari pusat kawah aktif.
Menurut Agus, area jalur pendakian teratas hingga titik kawah merupakan kawasan yang sangat rentan terpapar lontaran batu pijar tersebut. Karena itu, BPPTKG meminta masyarakat, pelaku wisata, maupun para pendaki untuk disiplin menaati aturan penutupan ini dan tidak berspekulasi memasuki kawasan rawan bencana selama aktivitas Gunung Merapi masih berada di level siaga.[]









