BREAKING

NASIONAL

Spirit KH Wahab Perkuat Transformasi Pesantren

Bedah buku KH Wahab Hasbullah di UIN Lampung menyoroti pentingnya warisan moderasi beragama dan transformasi pesantren untuk menjaga NKRI di era digital.

SEANTERONEWS.com – Semangat perjuangan dan pemikiran visioner KH Abdul Wahab Hasbullah dipandang tak lekang oleh waktu. Di tengah dinamika sosial-keagamaan era modern yang kompleks, gagasan sang ulama besar ini dinilai sangat krusial dalam mengokohkan moderasi beragama, merawat nasionalisme, sekaligus mendorong transformasi kelembagaan pesantren.

Sebagai salah satu pelopor berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 bersama KH Hasyim Asy’ari, rekam jejak Kiai Wahab sangat monumental. Melalui berbagai inisiatif pergerakan seperti Komite Hijaz, Taswirul Afkar, hingga Nahdlatul Wathan, ia sukses meramu semangat kebangsaan dan nilai religius dalam satu tarikan napas perjuangan.

Di era digital saat ini, warisan intelektual Kiai Wahab menjadi fondasi penting agar masyarakat tetap adaptif tanpa harus mengorbankan prinsip dasar agama. Pemikirannya diyakini sangat ampuh untuk meredam arus fragmentasi sosial dan intoleransi yang sewaktu-waktu bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berbagai gagasan emas tersebut kembali dikupas secara mendalam dalam forum bedah buku bertajuk “KH Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI”. Acara bergengsi yang mengusung tema The Mastermind of Movement ini diselenggarakan di UIN Raden Intan Lampung pada Sabtu (16/5/2026).

Sinergi Agama, Sains, dan Negara

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, melalui sambutan virtualnya yang dirilis pada Senin (18/5/2026), menekankan bahwa pesantren adalah entitas pendidikan asli Nusantara yang telah teruji zaman dan memegang kendali strategis sebagai benteng moralitas bangsa.

“Dahulu, KH Abdul Wahab Hasbullah merawat bangsa ini melalui jalur organisasi dan kelihaian diplomasi. Di masa kini, tugas kita adalah mendayagunakan sains dan teknologi untuk mempertahankan kedaulatan negara serta mengangkat derajat kemanusiaan,” tegas Menag Nasaruddin Umar.

Menag menambahkan, napas perjuangan Kiai Wahab turut menjadi rujukan utama bagi Kementerian Agama dalam memacu transformasi pesantren secara kelembagaan, salah satunya melalui penguatan struktur Direktorat Jenderal Pesantren.

Sejalan dengan hal itu, Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Basnang Said, menyebut mustahil membicarakan sejarah kemerdekaan Indonesia tanpa menyinggung kontribusi pesantren dan sosok Kiai Wahab.

“Beliau bukan sebatas pendiri organisasi raksasa, melainkan konseptor kebangsaan yang gigih mengawal keutuhan NKRI lewat pendekatan keagamaan yang teduh dan moderat,” ungkap Basnang.

Sementara itu, Ita Rahmawati selaku perwakilan keluarga besar KH Wahab Hasbullah turut menyoroti kepiawaian Kiai Wahab dalam menyeimbangkan porsi agama dan negara. Menurutnya, konsep moderasi yang diajarkan almarhum bukanlah bentuk sikap plin-plan.

“Moderasi yang diajarkan Kiai Wahab berarti mahir menempatkan posisi kebenaran di antara berbagai kutub ekstremisme, tanpa sedikit pun kehilangan ketegasan pendirian,” tuturnya.

Forum intelektual ini berlangsung meriah dengan dihadiri tak kurang dari 1.500 peserta yang terdiri dari kalangan akademisi, mahasiswa, hingga tokoh daerah setempat.

Sebagai puncak acara sekaligus wujud implementasi nyata dari ajaran inklusif Kiai Wahab, seluruh elemen yang hadir mendeklarasikan kampanye bersama bertajuk “Pesantren Stop Kekerasan”. Komitmen ini dideklarasikan untuk memastikan terciptanya ekosistem pendidikan Islam yang senantiasa aman, humanis, dan ramah bagi seluruh santri.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts