CIANJUR – Eksplorasi sejarah yang dilakukan oleh rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat ke Situs Megalitikum Gunung Padang tidak hanya menyisakan kekaguman terhadap arsitektur purba. Kunjungan yang berlangsung pada Senin malam (29/6/2026) tersebut juga mengenalkan para insan pers pada kearifan lokal setempat, yakni tradisi pembasuhan “Air Kehidupan” sebelum memasuki area utama situs bersejarah.
Didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana, rombongan wartawan diajak singgah terlebih dahulu ke sebuah sumber mata air pegunungan yang mengalir jernih di kaki bukit situs. Di sana, para peserta membasuh wajah dan tangan mereka. Prosesi sederhana ini bukanlah bagian dari ritual keagamaan, melainkan warisan adat turun-temurun sebagai lambang penghormatan terhadap alam sekitar serta jejak kebudayaan leluhur.
“Air merupakan simbol keberlangsungan hidup. Membasuh diri di mata air ini dimaknai sebagai langkah simbolis untuk membersihkan pikiran serta meluruskan niat sebelum kita mengapresiasi nilai sejarah dan budaya di Gunung Padang,” jelas Nanang Sukmana saat memberikan penjelasan kepada rombongan.
Menurut Nanang, kebiasaan positif tersebut menjadi pengingat penting agar setiap pengunjung melangkah ke kawasan cagar budaya dengan batin yang tenang, pikiran jernih, serta sikap hormat terhadap peninggalan masa lalu.
Rombongan penjelajah dari PWI ini dipimpin oleh Bendahara PWI Jaya, Dar Edi Yoga. Perjalanan budaya ini diikuti pula oleh sejumlah jurnalis dan praktisi, di antaranya Anrico Pasaribu, Rudolf Simbolon, Raldy Doy, Toni Bramantoro, Wahyu, serta praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo.
Bagi para peserta, momen di mata air alami tersebut menghadirkan ruang refleksi yang menenangkan. Dar Edi Yoga, yang tercatat telah berulang kali menyambangi situs purba ini sejak kunjungan pertamanya pada 15 Maret 2012, menuturkan bahwa setiap kedatangannya selalu menyuguhkan kedalaman spiritual yang berbeda.
“Tradisi membasuh diri di mata air ini menjadi pengingat bagi siapa saja untuk bertandang dengan kerendahan hati. Nilai utamanya bukan pada aspek ritual, melainkan bagaimana kita menghargai ekologi alam, menghormati sejarah, dan senantiasa menjaga perilaku saat berada di kawasan cagar budaya ini,” tutur Dar Edi Yoga.
Usai merampungkan prosesi pembasuhan, rombongan melanjutkan pendakian menuju lima undakan teras utama Situs Gunung Padang. Di bawah pendaran cahaya bulan purnama, para peserta menyusuri susunan batu kolom andesit khas kebudayaan megalitikum tersebut hingga menjelang dini hari.
Perjalanan malam tersebut bertransformasi menjadi ruang kontemplasi yang memadukan keindahan alam pegunungan Jawa Barat dengan warisan arkeologi tinggi. Keberadaan tradisi Air Kehidupan membuktikan bahwa Gunung Padang tidak sekadar menjadi monumen bebatuan mati, melainkan sebuah ruang kebudayaan hidup yang kearifannya terus dipelihara dari generasi ke generasi sebagai identitas kawasan.[]









