SEANTERONEWS.com – Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menolak keras kampanye negatif berskala global yang mengajak investor asing melepas aset-aset investasinya di Indonesia. Sikap penolakan ini didasari pandangan bahwa isu pelepasan aset domestik tersebut sarat akan manipulasi informasi dan tidak ditopang oleh fakta objektif.
Ketua Umum PP KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah, mengemukakan bahwa narasi yang dikenal dengan istilah Sell Indonesia sengaja diembuskan oleh jejaring asing yang merasa kepentingannya terganggu oleh ketegasan kebijakan ekonomi nasional.
“Kampanye Sell Indonesia adalah narasi yang sama sekali tidak berdasar, manipulatif, dan mengada-ada,” tegas Ahmad Jundi Khalifatullah, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Jundi, arah kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah saat ini justru berfokus pada penguatan kedaulatan dalam negeri serta memangkas ketergantungan pada jaringan kapitalisme global yang eksploitatif.
“Isu tersebut merupakan propaganda usang yang sengaja diputarbalikkan. Faktanya, rangkaian kebijakan strategis kita saat ini mulai dari hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi domestik, hingga reformasi fiscal membuat agen ekonomi asing cemas karena mereka tidak dapat lagi mendikte haluan ekonomi Indonesia,” urai Jundi.
PP KAMMI secara khusus mengendus adanya kekhawatiran dari lingkar bisnis dan geopolitik yang terafiliasi dengan kepentingan strategis Singapura dan Israel.
Selama ini, Singapura dikenal kerap menjadi penghubung (hub) finansial bagi aliran modal asing yang kurang transparan. Di sisi lain, kepentingan geopolitik Israel dinilai sering terusik oleh sikap konsisten Indonesia yang membela kemerdekaan Palestina serta menolak normalisasi hubungan diplomatik maupun kerja sama ekonomi.
Langkah Indonesia yang kian mandiri dalam mengoptimalkan sumber daya alam lokal serta mengalihkan kemitraan dagang dari pasar Barat ke aliansi strategis yang setara dianggap sebagai tantangan nyata bagi stabilitas bisnis global mereka.
Jundi pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih jeli dalam mengidentifikasi aktor intelektual di balik narasi pelemahan rupiah dan pasar saham domestik ini.
“Sudah saatnya kita berdiri tegak di atas kaki sendiri. Jika para agen ekonomi luar itu mulai cemas, hal tersebut mengindikasikan bahwa peta jalan kebijakan ekonomi nasional sudah berada di jalur yang benar untuk merebut kembali kedaulatan bangsa,” pungkas Jundi.[]










