JAKARTA – Mantan Menteri Keuangan, Muhamad Chatib Basri, mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (9/6/2026). Kehadirannya didampingi langsung oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, untuk melangsungkan pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto.
Kunjungan ini memicu perhatian publik lantaran nama Chatib Basri belakangan santer dirumorkan masuk dalam bursa calon kuat pengganti Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Sadewa. Sebagai salah satu ekonom terkemuka di Indonesia, Chatib dinilai memiliki bekal pengalaman yang matang di ranah akademik, pemerintahan, hingga jaringan finansial global.
Rekam Jejak Akademik dan Awal Karier Pemerintahan
Pria kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1965 ini menamatkan studi sarjananya di Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Guna memperdalam keilmuannya, ia kemudian menempuh program magister serta doktoral di Australian National University (ANU).
Sebelum menduduki posisi strategis di kabinet pemerintahan, Chatib lebih banyak mendedikasikan waktunya sebagai peneliti dan dosen dengan fokus kajian pada perdagangan internasional, ekonomi politik, serta makroekonomi. Kompetensi keilmuannya membuat ia kerap dipercaya menjadi penasihat kebijakan ekonomi pemerintah.
Ia pernah mengemban tugas penting sebagai Deputi Menteri Keuangan untuk forum G20, perwakilan (Sherpa) Presiden RI dalam pertemuan tingkat tinggi G20, hingga menjabat Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Pengalaman komprehensif ini membentuk reputasinya sebagai seorang teknokrat yang andal dalam menavigasi kebijakan ekonomi nasional di tengah tantangan global.
Menghadapi Krisis “Taper Tantrum”
Karier birokrasi Chatib melesat saat ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tahun 2012. Setahun berselang, tepatnya pada 21 Mei 2013, ia resmi dilantik menjadi Menteri Keuangan menggantikan Agus Martowardojo.
Selama masa jabatannya pada periode 2013–2014, perekonomian Indonesia diperhadapkan pada tekanan berat akibat gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh pengetatan moneter Amerika Serikat, yang populer dengan istilah taper tantrum.
Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Keuangan dinilai berhasil meredam dampak arus keluar modal asing serta menjaga stabilitas fiskal dan tingkat kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Kiprah di Kancah Internasional
Selepas masa baktinya di kabinet, aktivitas Chatib di tingkat dunia tidak meredup. Ia tercatat pernah menjadi Senior Fellow di Harvard Kennedy School, Visiting Scholar pada Harvard Center for International Development, serta mengajar sebagai profesor tamu di sejumlah universitas global ternama.
Kiprahnya di lembaga dunia juga diakui melalui keterlibatannya dalam Dewan Penasihat Gender dan Pembangunan World Bank. Saat ini, selain kembali aktif mengajar di almamaternya, Universitas Indonesia, Chatib dipercaya memegang peran sebagai Co-Chair Pandemic Fund, sebuah inisiatif dana global yang didukung secara kolaboratif oleh World Bank dan WHO.










