SEANTERONEWS.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengupayakan berbagai langkah strategis guna memperkuat kapasitas mitigasi masyarakat secara mandiri. Di tengah pesatnya perkembangan era digital, pemanfaatan teknologi informasi kini dioptimalkan sebagai instrumen utama dalam menyebarluaskan peta kerawanan bencana.
Melalui aplikasi seluler bernama InaRisk Personal, BNPB mengimbau sekaligus mendorong warga negara untuk secara aktif memetakan serta mengenali potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.
Aplikasi InaRisk Personal dirancang khusus sebagai portal informasi interaktif yang menyajikan basis data komprehensif mengenai indeks kerawanan berbagai bencana alam di seluruh penjuru tanah air. Dengan memanfaatkan sensor lokasi pada perangkat gawai, masyarakat dapat mendeteksi potensi ancaman bencana di titik koordinat mereka berada.
Portal ini mampu mendeteksi tingkat risiko terhadap berbagai ancaman lingkungan, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kelebihan utama dari aplikasi ini tidak hanya terbatas pada fungsi pemetaan risiko. InaRisk Personal juga dilengkapi dengan panduan taktis berupa rekomendasi langkah mitigasi mandiri yang dapat diterapkan oleh pengguna. Informasi ini sangat penting agar masyarakat dapat merancang rencana penyelamatan darurat keluarga secara matang sebelum bencana benar-benar terjadi.
BNPB menilai bahwa diseminasi informasi berbasis teknologi digital memiliki peran vital dalam mengakselerasi pembentukan karakter masyarakat yang tangguh bencana. Pengetahuan dini mengenai karakteristik ancaman di lingkungan sekitar merupakan modal dasar dalam membangun budaya sadar bencana yang kolektif.
Pergeseran paradigma dari tindakan penanganan pascabencana (response) ke tindakan pencegahan dini (preventive) dinilai jauh lebih efektif dalam meminimalkan jatuhnya korban jiwa serta kerugian harta benda. Melalui pemantauan mandiri secara berkala, warga diharapkan tidak lagi panik, melainkan memiliki kesiapan psikologis dan operasional saat menghadapi situasi darurat.
Meskipun pemanfaatan teknologi dinilai sangat membantu, BNPB mengingatkan masyarakat bahwa efektivitas aplikasi ini harus ditopang oleh tindakan kesiapsiagaan di dunia nyata.
Masyarakat diimbau untuk menyelaraskan informasi dari InaRisk Personal dengan langkah-langkah mitigasi konvensional lainnya, seperti:
Secara konsisten memantau informasi cuaca dan kegempaan dari kanal resmi instansi pemerintah.
Memahami dan memetakan rute evakuasi tercepat menuju titik aman (assembly point) di lingkungan RT/RW masing-masing.
Menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang berisi kebutuhan pokok darurat selama minimal 3×24 jam.
Memperkuat koordinasi, simulasi tanggap darurat, serta merawat budaya gotong royong antarwarga.
Melalui program sosialisasi dan edukasi kebencanaan yang berkesinambungan, BNPB berharap pengadopsian aplikasi InaRisk Personal dapat meluas ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga keselamatan bersama di daerah rawan bencana dapat lebih terjaga.[]










