SEANTERONEWS.com – Sektor medis tanah air tengah gencar mengampanyekan visi besar “Indonesia Bebas Nyeri 2030”. Komitmen ini diinisiasi secara kolaboratif oleh Unit Kerja Khusus Pusat Pengembangan Kedokteran Indonesia (UKK Pusbangki) FKUI bersama Pain Management Network (PMN).
Guna merealisasikan target tersebut, kedua lembaga memfokuskan program pada penguatan edukasi serta pelatihan penanganan nyeri secara multidisiplin bagi para tenaga medis. Sinergi ini dirancang sebagai landasan utama dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan nasional terkait manajemen nyeri.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah minimnya jumlah ahli medis yang memiliki kualifikasi khusus di bidang intervensi nyeri.
Pendiri sekaligus Program Director PMN, Theresia CT Novy, mengungkapkan bahwa per Mei 2026, jumlah dokter spesialis yang mengantongi sertifikasi resmi di bidang ini masih sangat terbatas.
“Saat ini, praktisi medis yang bersertifikat di bidang intervensi nyeri di Indonesia baru berkisar di angka 50 orang, dan persebarannya masih terpusat di kota-kota besar,” jelas Theresia pada Jumat (29/5/2026).
Guna mempercepat persebaran keahlian tersebut, PMN dan Pusbangki FKUI mendorong peran aktif pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan. Dukungan yang diharapkan mencakup kemudahan regulasi untuk akses pendidikan berkelanjutan serta optimalisasi peran dokter spesialis yang telah kompeten.
Theresia menekankan bahwa gerakan ini harus berjalan secara integratif dan kolektif. Akselerasi menuju target tahun 2030 akan jauh lebih cepat tercapai jika keahlian penanganan nyeri dikuasai secara merata oleh dokter dari berbagai lintas disiplin ilmu, mulai dari spesialis anestesi, saraf (neurologi), bedah tulang (ortopedi), kedokteran olahraga, hingga spesialis penyakit dalam di daerah-daerah.
Optimisme serupa disampaikan oleh Guru Besar Senior FKUI, Prof. Darto Satoto. Beliau menilai visi Indonesia Bebas Nyeri 2030 merupakan target realistis yang sangat mungkin dicapai melalui tiga pilar utama: penguatan sektor pendidikan kedokteran, kampanye promosi kesehatan yang masif, serta integrasi keilmuan antardisiplin medis.
“Faktor penentu keberhasilan ini terletak pada kualitas kurikulum pendidikan, promosi kesehatan yang intensif kepada masyarakat luas, serta soliditas lintas keilmuan untuk melahirkan lebih banyak praktisi kompeten di berbagai fasilitas kesehatan,” papar Prof. Darto, yang baru saja menerima penghargaan Lifetime Achievement dari PMN atas dedikasinya.
Dari aspek pelayanan publik, Kepala UKK Pusbangki FKUI, Irzan Nurman, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas dokter lokal akan berdampak langsung pada efisiensi biaya yang dikeluarkan oleh pasien.
Melalui standarisasi keahlian penanganan nyeri yang merata di dalam negeri, masyarakat diharapkan tidak perlu lagi melakukan perjalanan medis ke luar negeri untuk mencari terapi serupa.
“Apabila keahlian dokter kita merata dan terus meningkat, masyarakat dapat mengakses penanganan klinis terbaik secara lebih praktis dan ramah kantong di fasilitas kesehatan domestik, tanpa harus terbebani biaya perjalanan luar negeri yang tinggi,” pungkas Irzan.










