POLITIK

Mohammad Jumhur Hidayat: Ujian Idealisme Aktivis di Kursi Menteri Lingkungan Hidup

Mohammad Jumhur Hidayat resmi dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri LH. Mampukah sang aktivis menjaga idealisme atau justru terjebak dalam "sirkus" kekuasaan?

JAKARTA – Upacara pelantikan kabinet di Istana Negara biasanya berjalan formal sesuai koreografi protokol. Namun, suasana terasa berbeda saat nama Mohammad Jumhur Hidayat dibacakan. Sosok yang selama ini dikenal sebagai aktivis yang lebih sering menghabiskan hidupnya di jalanan perjuangan ketimbang lorong kekuasaan, kini resmi mengemban amanah sebagai Menteri Lingkungan Hidup di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Kehadiran sosok kontroversial lainnya, seperti Rocky Gerung, di barisan tamu undangan seolah mempertegas kesan reuni para pengganggu status quo di jantung kekuasaan. Hal ini memicu sinisme sekaligus kekhawatiran besar: mampukah idealisme bertahan di dalam sistem?

Di tengah gegap gempita pelantikan, sebuah peringatan tajam muncul dari lingkaran sahabat Jumhur: “Jangan sampai mereka jadi beruang sirkus”. Kalimat ini bukan sekadar kiasan, melainkan sebuah metafora kuat tentang nasib idealisme dalam kekuasaan.

Analogi Beruang Sirkus: Beruang sirkus tampak gagah namun telah dijinakkan, berjalan sesuai irama musik, dan langkahnya ditentukan oleh pelatih.

Harapan Sahabat: Jumhur diharapkan tetap menjadi “beruang sejati” yang hidup selaras dengan alam, tidak rakus, dan hanya akan menjadi ganas ketika lingkungannya dirusak.

Sejarah Perlawanan: Rekam jejak Jumhur bukanlah hasil dari ruang nyaman. Ia ditempa oleh konflik sejak peristiwa 5 Agustus 1989 di ITB yang menyeretnya ke penjara Sukamiskin, hingga penangkapannya terkait kritik terhadap UU Cipta Kerja pada tahun 2020.

Sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur kini berhadapan dengan “penyakit kronis” ekologi Indonesia yang sangat kompleks. Daftar masalah yang menantinya bukanlah perkara teknis semata, melainkan soal keberanian menghadapi kekuatan modal besar.

Deforestasi & Tambang: Rutinitas birokrasi yang melanggengkan penggundulan hutan dan lubang tambang yang ditinggalkan tanpa reklamasi.

Polusi & Sampah: Udara kota yang kian menebal, kebakaran hutan tahunan, serta sampah plastik yang mengubah samudra menjadi tempat pembuangan raksasa.

Konflik Agraria: Perselisihan lahan yang tak kunjung usai antara masyarakat adat dengan korporasi besar.

Jumhur kini dituntut bukan hanya menjadi aktivis yang benar, tetapi pengambil keputusan yang berani. Di luar sistem, lawan terlihat jelas. Namun di dalam sistem, lawan sering kali memakai “jas yang sama”.

Ujian aslinya adalah apakah ia berani menghentikan izin yang merusak, menata ulang konsesi, atau dengan tegas menyatakan bahwa tidak semua investasi adalah berkah. Dukungan politik dari Presiden Prabowo Subianto menjadi penentu utama. Tanpa dukungan itu, menteri lingkungan hidup berisiko hanya menjadi simbol atau sekadar dekorasi kekuasaan.

Jika Jumhur gagal mempertahankan tajinya, maka istilah “beruang sirkus” bukan lagi peringatan, melainkan diagnosis kegagalan kita dalam memperbaiki kekuasaan dari dalam. Alam tidak mengenal gelar atau riwayat hidup; ia hanya merasakan apakah perusakan berhenti atau terus berlanjut di bawah “sirkus pembangunan”.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts