JAKARTA – Ibu kota Indonesia, Jakarta, berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di awal tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Global Residence Index 2026 pada pertengahan Januari lalu, Jakarta resmi dinobatkan sebagai kota teraman kedua di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), hanya satu tingkat di bawah Singapura.
Pencapaian ini menempatkan Jakarta dalam daftar 100 besar kota terbaik di dunia, tepatnya di peringkat ke-87 global. Jakarta sukses mengungguli kota-kota besar tetangga seperti Bangkok, Kuala Lumpur, hingga Manila dalam hal indeks keamanan menyeluruh.
Rapor Keamanan Jakarta: Statistik dan Realita
Penentuan predikat “kota teraman” oleh Global Residence Index tidak hanya didasarkan pada rendahnya angka kriminalitas jalanan, tetapi menggunakan pendekatan multidimensi yang menggabungkan data statistik objektif dengan risiko lingkungan hingga stabilitas politik.
Berdasarkan data indikator yang diterbitkan, Jakarta mencatatkan skor Safety Index sebesar 0,72 (dalam skala 0-1). Beberapa poin krusial yang mendasari skor tersebut antara lain:
Homicide Rate: Tingkat pembunuhan di Jakarta berada di angka 0,8 per 100.000 penduduk, yang dikategorikan sangat rendah untuk ukuran megapolitan.
Global Peace Index: Indonesia secara nasional memiliki skor kedamaian 0,68, mencerminkan situasi negara yang relatif stabil dan minim konflik internal.
Numbeo Index: Persepsi keamanan publik dari warga (risiko pencurian dan serangan fisik) berada di skor 46,62.
[Table: 5 Kota Teraman di ASEAN 2026]
| Peringkat ASEAN | Kota | Safety Index | Peringkat Dunia |
| 1 | Singapura | 0,90 | 7 |
| 2 | Jakarta | 0,72 | 87 |
| 3 | Bangkok | 0,65 | 111 |
| 4 | Vientiane | 0,61 | 120 |
| 5 | Hanoi | 0,6 | 125 |
Indikator Penentu: Lebih dari Sekadar Bebas Kriminal
Metodologi Global Residence Index 2026 mencakup variabel yang sangat luas untuk memastikan keakuratan data. Indikator tersebut meliputi risiko keamanan umum (Security Risk) dan risiko politik (Political Risk) yang di Jakarta berada pada angka 0,5 (kategori sedang).
Namun, laporan tersebut juga memberikan catatan kritis pada dua sektor, yakni Natural Disaster Risk (risiko bencana alam) yang menyentuh angka 10,24 serta Road Traffic Death Rate (tingkat kematian lalu lintas) di angka 15,3. Hal ini mengindikasikan bahwa meski Jakarta aman dari konflik besar dan pembunuhan, tantangan utama bagi keselamatan warga justru datang dari faktor mobilitas transportasi dan potensi bencana alam seperti banjir.
Implikasi bagi Investasi dan Pariwisata
Keberhasilan Jakarta menembus posisi kedua di ASEAN memberikan sinyal positif bagi dunia internasional. Stabilitas keamanan sering kali menjadi pertimbangan utama bagi investor asing dan ekspatriat dalam memilih lokasi hunian maupun bisnis.
Dengan mengungguli Bangkok (peringkat 111 dunia) dan Kuala Lumpur (peringkat 128 dunia), Jakarta kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat sebagai hub bisnis yang stabil di Asia Tenggara. Pemerintah diharapkan dapat terus menekan angka kecelakaan lalu lintas dan meningkatkan mitigasi bencana untuk semakin mendongkrak skor keamanan di tahun-tahun mendatang.[]










