Oleh: Tgk. Zul Fajri Joesva
Islam adalah satu-satunya agama yang dalam kitab imannya percaya kepada Yesus. Seorang muslim tidak dikatakan Muslim jika ia tidak percaya kepada Yesus. Muslim percaya bahwa ia seorang “Messiah” yang diterjemahkan sebagai “Kristos”. Muslim percaya bahwa ia dilahirkan tanpa perantara orang tua laki-laki. Muslim percaya ia mampu menyembuhkan panyakit kusta dengan perkenan tuhan. Muslim juga percaya bahwa ia mampu membuat burung dari tanah liat. Muslim juga percaya bahwa ia mampu memberikan kehidupan bagi orang mati dengan perkenan dan izin tuhan seperti orang Kristen modern sekarang ini mempercayainya.
Jika Islam dan Kristen sama-sama percaya tentang kebesaran dan kehebatan Yesus, apa faktor pemisahnya? Perbedaaan utama antara Islam dan Kristen adalah orang Kristen bersikeras tentang keilahian Yesus bahwa ia mati di kayu salib demi untuk menebus dosa-dosa manusia. Sementara Muslim berkata bahwa ia hanya seorang nabi besar tuhan yang diutus untuk kalangan Bani Israil.
Penyaliban Yesus menunjukkan perbedaan mendasar, Bibel menekankan penyaliban sebagai penebusan dosa dan kematian fisik Yesus (kemudian bangkit), sementara Quran menegaskan Yesus tidak disalib atau dibunuh, melainkan diangkat ke langit oleh Allah. Quran menyatakan ada orang yang diserupakan dengan Yesus (An-Nisa: 157-158), sedangkan Kristen meyakini salib adalah puncak atau sentral keimanan. Segala amal kebaikan orang Kristen akan sia-sia (tidak diterima) jika tidak mengakui Yesus Kristus yang mati di kayu salib sebagai penebusan dosa untuk seluruh umat manusia.
Al-Qur’an surat An-Nisa:157-158 sebagai islamic verdict tentang penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai yang diyakini oleh umat Kristen. Sudut pandang Kristen dikupas dan dibicarakan panjang lebar di Perjanjian Baru. Konsep paradigma dasar penyaliban berangkat dari pendefinisian kata “penyaliban” dan istilah “kebangkitan”. Menurut kamus Oxford, crucify is the act of killing someone by fastening them to a cross/to kill somebody as a punishment by fastening them to a wooden cross”. Penyaliban berarti perbuatan membunuh/menghukum seseorang dengan mengikat di kayu salib. Sederhananya bisa dipahami, bila seseorang disalib, ia harus mati di kayu salib, jika tidak mati orang tersebut tidak bisa dianggap atau dikategorikan sebagai orang yang disalib. Sebab tujuan akhir dari disalib adalah bila seseorang menemui ajal (mati).
Sedangkan kebangkitan (resurrection is the time when somebody returned to life again after his death) adalah waktu (dibaca: peristiwa) hidup kembali seseorang setelah kematiannya. Singkatnya, seseorang yang akan mengalami kebangkitan harus mengalami kematian. Jika ia tidak mati, maka ia tidak akan dibangkitan (tidak mengalami kebangkitan). Point utama yang harus dipahami dalam konteks ini adalah yang akan dibangkitkan itu roh (tubuh halus), bukan jasad kasarnya. Walaupun semua orang sudah paham yang mengalami kebangkitan adalah roh, tapi penekanan ini perlu Penulis ingatkan agar memantapkan pemahaman kita dalam memahami penyaliban dan kebangkitan.
Perbedaan Ajaran Yesus Kristus dan Santo Paulus
Terhadap amal seseorang dan kesalamatan, Yesus Kristus berkata dalam Injil Matuis 19: 16-17 (Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”) Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup (dibaca: keselamatan), turutilah segala perintah Allah.”
Pada intinya Yesus Kristus menekankan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dengan mentaati seluruh perintah dan hukum tuhan. Akan tetapi, menurut Santo Paulus ia memaku semua perintah dan hukum tuhan itu pada “salib” seperti yang ia sabdakan dalam Perjanjian Baru 1 Korintus 15:14 “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (Versi TB 1974)”. Dalam versi ABV 2015 dikatakan “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah perkhabaran kami dan sia-sialah imanmu”.
Dapat disimpulkan bahwa keselamatan dalam ajaran Paulus hanya dapat dicapai ketika seseorang percaya kepada kebangkitan Yesus Kristus yang mati di kayu salib, bukan dengan mematuhi hukum tuhan. Bilamana doktrin Santo kita perluas, jika tidak ada penyaliban, maka tidak ada kebangkitan, jika tidak ada kebangkitan, maka tidak ada kekristenan. Seluruh isi Injil, perkhabarannya, dan semua amal sholeh seseorang itu jadi tidak berguna dan sia-sia jika tidak percaya pada penyaliban.
Penulis ingin menegaskan mengenai satu hal, kita Muslim tidak menganggap Injil sekarang sebagai firman tuhan. Ada ayat dalam Injil yang mungkin bisa kita anggap sebagai firman tuhan: berisi perkataan para nabi dan juga perkataan sejarawan. Apupun kutipan Penulis dalam tulisan ini, hal itu tidak berarti jadi sudut pandang Islam (Islamic Viewpoint). Pandangan Islam berkenaan penyaliban sangat jelas dikatakan bahwa Yesus Kristus tidak dibunuh dan juga tidak disalib (An-Nisa: 157-158). Pada tulisan yang singkat ini, Penulis hanya mengetengahkan tiga peristiwa (Kepergian Maria Magdalena di hari Minggu, Yesus menghampiri dan menampak diri kepada semua murid, dan nubuat Yesus tentang tanda Yunus).
Kepergian Maria Magdalena di Pagi Hari Minggu
Kisah Kebangkitan Yesus menurut Injil Yohanes diawali dengan peristiwa di hari pertama minggu itu, ketika masih pagi-pagi benar, Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus. Pertanyaannya mengapa Maria Magdalena ke sana? Jawabanya ada dalam Injil Matius 28:1; Markus 16:1; dan Lukas 24:1-10 dikisahkan bahwa Maria bersama beberapa orang wanita lainnya pergi ke kubur Yesus untuk mengurapi jenazah Yesus pada hari Minggu Paskah.
Kata pengurapan berasal dari ibrani asli yaitu “masysyakha” yang berarti mengurap, mengusap atau memijat. Dan dari kata Ibrani tersebut kita mendapatkan kata “kristos”. Apakah orang Yahudi dan Muslim memijat orang mati pada hari ketiga? Sungguh tidak! Mengapa hal itu terjadi? Karena dia satu-satunya selain Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus melakukan upacara penguburan bagi Yesus. Dan ketika Jenazah Yesus diturunkan dari salib, Maria melihat ada tanda-tanda kehidupan bagi Yesus dan karena itu dia pergi ke kubur Yesus dan melakukan pengurapan baginya.
Begitu sampai Maria Magdalena ke kubur itu, dia terperanjat dan melihat batu kubur telah diambil dan digulingkan dari kubur dan kain kafan tergeletak di tanah. Maria Magdalena berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah tukang kebun, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”
Inilah yang menjadi tanda tanya, “Mengapa Yesus Kristus menyamar sebagai tukang kebun?” karena dia takut sama orang Yahudi. Sekarang memakai kita logika sederhana, apakah roh yang dibangkitkan terlihat seperti tukang kebun? Tidak! Jelaslah sudah orang yang keluar dari kubur itu adalah jasad kasar bukan roh.
Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Yesus menghampiri dan menampak diri kepada semua murid
Dalam Injil Lukas 24: 36-43 diceritakan. “Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: ”Adakah padamu makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka”. Dari cerita tersebut, Yesus benar-benar meyakini muridnya bahwa ia masih hidup sembari memperlihatkan tangan dan kaki, juga memakan sepotong ikan goreng di hadapan mereka bahwa ia tubuh yang nyata bukan roh.
Kebangkitan Yesus dan Tanda Yunus
Jika kita meninjau kitab 1 Korintus Bab: 15, Lukas Bab: 24, Yohanes Bab: 20, berulang kali dalam Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus wafat dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Jadi ketika Anda melihat tulisan itu, maka Anda harus bertanya, kitab suci apa? Maka Anda akan mengalami suatu masalah, karena jika Anda mencari dalam Perjanjian Lama maka tidak ada nubuat nabi Yesaya atau nabi Yeremia atau juga nabi Daniel yang mengatakan bahwa Mesias akan dibangkitkan pada hari ketiga.
Tidak ada nubuat seperti itu. Namun semua penulis Perjanjian Baru, kebanyakan dari mereka walaupun tidak semua, mengatakan bahwa Yesus dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Jadi kitab suci apa yang mereka maksud? Ada satu kitab suci dalam Perjanjian Lama yang ada hubungannya dengan ini, yaitu surat Yunus. Yesus menghubungkan Kebangkitan-Nya dengan Perjanjian Lama hanya satu kali. Yaitu ada dalam kisah-Nya yang terkenal mengenai Tanda Yunus.
Tanda Yunus tersebut terdapat dalam Injil Matius 12: 38-40 “Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu. Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam”. Dari penggalan ayat tersebut yang harus digarisbawahi adalah “tiga hari tiga malam” yang merupakan tema dasar dari topik ini.
Untuk menemukan/melacak sejarah tanda Yunus, terlebih dulu kita harus membaca surat Yunus dalam Perjanjian Lama. Dalam kitab Yunus diceritakan bahwa Allah telah memerintahkan kepada Yunus agar pergi ke kota Niniwe untuk memperingatkan penduduk kota itu agar segera bertobat dan insaf dari segala tingkah lakunya yang jahat (Yunus 3:8).
Namun ternyata Yunus enggan pergi ke Niniwe. Ia malah melarikan diri ke Yafo. Di sana ketika ia melihat sebuah perahu yang akan berlayar, dengan cepat ia naik untuk melarikan diri dari perintah Allah. Ketika perahu berada di tengah laut, tiba-tiba datang angin topan dan gelombang besar yang menakutkan. Melihat kejadian ini si nakhkoda berkeyakinan bahwa di antara penumpangnya pasti ada salah seorang yang telah berbuat durhaka. Si nakhkoda kemudian berembuk dengan para penumpangnya untuk mengatasi masalah ini. Kemudian mereka berkata, “Marilah kita undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini (Yunus 1:7).
Meskipun Yunus merasa enggan memenuhi perintah Allah untuk pergi berdakwah, tapi setelah kalah dalam undian, dengan gagah berani ia menawarkan diri untuk melaksanakan hukuman itu. Katanya, “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.” (Yunus 1:12). Dengan gagah berani Yunus menyerahkan dirinya untuk dijadikan tumbal dan korban seraya berkata, “Campakkanlah aku ke dalam laut! “Dan setelah itu gelombang laut dan angin ribut benar-benar reda!”
Kini kita dihadapkan pada pertanyaan, “Bagaimanakah keadaan Nabi Yunus ketika dilemparkan ke dalam laut, apakah dia mati atau hidup?” Semua orang akan menjawab: “Dia masih hidup! Di dalam perut ikan besar itu Yunus berdoa kepada Tuhan Allahnya. Katanya, “Dalam kesusahan aku berdoa kepada Tuhan dan Ia menjawab aku.” (Yunus 2:1-2) Semua akan menjawab, “Yang jelas di dalam perut ikan itu Yunus hidup, karena orang mati tidak mungkin berdoa!” Lantas bagaimanakah keadaan Nabi Yunus selama tiga hari tiga malam dibawa ikan besar itu mengharungi lautan, mati atau hidup? Orang waras menjawab: “Dia masih hidup!” Dalam keadaan hidup atau matikah setelah tiga hari tiga malam akhirnya ikan besar tersebut memuntahkan Nabi Yunus ke tepi pantai? Jawaban tetap tidak akan berubah: “Dia masih Hidup!”
Jawaban tersebut walau bagaimanapun, dapat diterima oleh semua golongan agama: Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Karena memang tidak ada bukti kitabiah yang mengatakan bahwa Nabi Yunus mati di dalam peristiwa itu. Jadi, jika Nabi Yunus diyakini hidup selama tiga hari tiga malam di dalam perut ikan, maka seharusnya Yesus juga hidup selama tiga hari berada di dalam kuburnya, atau rahim bumi sebagaimana yang dinubuatkannya sendiri. Kenapa doktrin kristen menyatakan bahwa Yesus mati? Karena doktrin kekristenan akan kematian dan kebangkitan Yesus ternyata menabrak common sense. Mereka membonsai logikanya sendiri dan mengatakan bahwa “Yesus mati”.
Sebenarnya mereka melakukan itu demi mengabadikan “gagasan” tentang Yesus sebagai juru selamat. Karena itulah, tidak bisa tidak harus dijawab bahwa selama tiga hari tiga malam dalam kuburnya, Yesus mati. Padahal kita semua tahu bahwa pernyataan ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengan apa yang ditegaskan oleh Yesus sendiri dalam nubuatnya di kitab Yunus! Yunus tetap hidup selama tiga hari tiga malam di perut ikan, tapi mengapa Yesus “harus” dianggap mati selama tiga hari tiga malam di rahim bumi? Apakah nubuat Yesus dalam kitab Yunus itu terpenuhi atau tidak? Tidak! Agar nubuat itu terpenuhi, maka Yesus harus hidup pada saat itu.
Orang yang disalib harus mati di kayu salib dan kebangkitan itu harus didahului oleh kematian. Untuk menyederhanakan pemahaman, Penulis ingin mendaftarkan beberapa point utama yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak benar-benar disalib walaupun point-point tersebut tidak semua terdapat dalam tulisan yang singkat ini. (1) Yesus hanya disalib selama tiga jam; (2) dua orang yang disalib bersama Yesus masih hidup; (3) kakinya tidak patah; (4) batu kubur sudah disingkirkan dan kain kafan sudah dilepaskan; (5) Yesus menyamar sebagai tukang kebun; (6) ruangan kubur itu luas dan lapang; (7) Yesus mengatakan kepada Maria Magdalena, “Jangan sentuh, aku!” (8) Yesus mengatakan, “Aku belum naik ke Bapa-Ku” (9) Maria Magdalena tidak takut saat mengenali Yesus saat itu; (10) Yesus menunjukkan tangan dan kakinya kepada para muridnya; (11) Yesus memakan sepotong ikan dan madu; (12) murid Yesus senang bertemu dengannya; (13) para murid mendengar dari Maria Magdalena bahwa Yesus masih hidup; dan (14) tanda Yunus dalam ajaran Matius 12: 38-40. Wa quljaa-al haqqu wa zahaqal baathil, innal baathilaka nazahuuqan!
))**Pengurus LPI Darul Falah Desa Matangkeh, Pirak Timu-Aceh Utara










