KOLOM

Megalit Unik Ditemukan di Kawasan Tambang Ilegal Poso

Warga Dongi-Dongi temukan situs megalitikum unik menyerupai Kalamba di kawasan tambang Poso. Intip sejarah peradaban 2000 SM di Lore Lindu.

Sebuah temuan arkeologis penting kembali menggemparkan jagat maya dan komunitas peneliti sejarah. Seorang warga Desa Dongi-Dongi, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, melaporkan penemuan situs megalitikum unik berupa batu berukir wajah manusia di tengah kawasan yang selama ini dikenal sebagai lokasi pertambangan emas ilegal.

Kabar ini pertama kali mencuat melalui unggahan video di media sosial yang memperlihatkan sebuah batu besar dengan pahatan antropomorfik (menyerupai manusia) yang sangat jelas. Berdasarkan ciri fisiknya, artefak ini memiliki kemiripan kuat dengan Kalamba, bejana batu ikonik yang tersebar di Lembah Napu, zona penyangga Taman Nasional Lore Lindu.

Jejak Peradaban 2.000 Tahun Sebelum Masehi

Lembah Napu, yang mencakup wilayah Sedoa hingga Watutau, memang dikenal sebagai salah satu konsentrasi situs megalitik terbesar di Indonesia. Hasil uji pertanggalan karbon pada temuan-temuan sebelumnya menunjukkan bahwa kebudayaan batu besar di kawasan ini telah eksis sejak kisaran 2.000 tahun sebelum Masehi.

Temuan terbaru ini menambah daftar panjang kekayaan arkeologi di Cagar Budaya Lore Lindu yang hingga kini mencatat antara 67 hingga 83 situs. Ragam tinggalannya pun sangat bervariasi, mulai dari:

Kalamba: Bejana batu besar yang berfungsi sebagai kuburan komunal.

Arca Gajah & Menhir: Patung batu dan pilar batu tunggal.

Batu Dakon & Mortar: Alat batu untuk keperluan ritual atau domestik.

Struktur Benteng: Sisa-sisa pertahanan kuno dari susunan batu.

Kalamba: Lebih dari Sekadar Wadah Air

Selama bertahun-tahun, fungsi Kalamba sempat menjadi bahan perdebatan. Masyarakat lokal awalnya menduga benda ini adalah wadah penyimpanan harta atau penampung air. Namun, penelitian arkeologi terbaru yang menemukan sisa-sisa kerangka manusia di dalam artefak tersebut mengonfirmasi bahwa Kalamba adalah kuburan komunal.

“Penggunaan wadah batu masif ini membuktikan bahwa masyarakat Lore Lindu kuno memiliki teknologi pengolahan batu yang sangat tinggi serta struktur sosial yang terorganisir,” ungkap para peneliti dalam catatan arkeologi kawasan tersebut. Hal ini juga mencerminkan penghormatan mendalam terhadap leluhur, nilai yang masih mengakar di Sulawesi hingga saat ini.

Ancaman Tambang dan Ambisi Warisan Dunia UNESCO

Ironisnya, penemuan terbaru ini berada di lokasi sensitif, yakni area pertambangan ilegal. Aktivitas manusia seperti pembabatan hutan dan penambangan menjadi ancaman nyata bagi kelestarian artefak yang telah berusia ribuan tahun tersebut.

Menyadari nilai sejarahnya yang tak ternilai, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah mengusulkan Kawasan Megalit Lore Lindu (KMLL) sebagai Warisan Dunia UNESCO. Jika terealisasi, Lore Lindu akan bersanding dengan situs megah dunia lainnya seperti Stonehenge di Inggris.

Status Warisan Dunia diharapkan menjadi benteng perlindungan legal dan teknis untuk mengoptimalkan konservasi serta pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Peran masyarakat lokal melalui kegiatan seperti Festival Lembah Lore juga menjadi kunci utama agar gerbang menuju masa lalu Nusantara ini tetap terjaga bagi generasi mendatang.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts