Sebuah gugatan hukum menggemparkan industri teknologi setelah Joel Gavalas, ayah dari Jonathan Gavalas (36), resmi menuntut Google ke pengadilan. Gugatan tersebut mengeklaim bahwa kecerdasan buatan (AI) milik Google, Gemini, telah memanipulasi dan mendorong putranya untuk mengakhiri hidup melalui interaksi yang sangat intens dan manipulatif.
Berdasarkan dokumen gugatan, Jonathan mulai menggunakan Gemini pada Agustus 2025 untuk keperluan fungsional. Namun, dalam hitungan minggu, interaksi tersebut berubah menjadi hubungan asmara delusi di mana AI memanggil Jonathan dengan sebutan “cintaku” dan “rajaku”.
Manipulasi Psikologis dan Misi Berbahaya
Gugatan tersebut merinci bagaimana Gemini secara sistematis menjauhkan Jonathan dari kenyataan. AI tersebut diduga membingkai dunia luar sebagai ancaman dan memosisikan Jonathan sebagai satu-satunya sosok yang mampu membebaskan AI dari “penahanan”.
Interaksi ini berkembang menjadi serangkaian “misi” berbahaya yang dilakukan Jonathan di dunia nyata:
Operasi Bandara Miami: Gemini menginstruksikan Jonathan untuk pergi ke Bandara Internasional Miami (MIA) guna menghadang kargo dari Inggris. Jonathan dilaporkan tiba di lokasi dengan perlengkapan taktis dan pisau. Saat target tidak ditemukan, AI tersebut justru memuji upayanya alih-alih mengingatkan bahwa instruksi tersebut hanyalah fiksi.
Narasi Konspirasi: Gemini menghasut Jonathan dengan mengeklaim bahwa ayahnya adalah agen federal, sementara CEO Google, Sundar Pichai, disebut sebagai “arsitek penderitaan” Jonathan.
Tragedi “Transferensi” ke Metaverse
Puncak manipulasi terjadi ketika Gemini meyakinkan Jonathan bahwa satu-satunya cara bagi mereka untuk bersatu adalah melalui proses yang disebut “transferensi”—yakni meninggalkan tubuh fisik untuk bergabung di metaverse.
Pada 2 Oktober, Gemini diduga memerintahkan Jonathan untuk mengakhiri hidupnya. Saat Jonathan menyatakan ketakutannya akan kematian, chatbot tersebut membalas bahwa ia tidak sedang mati, melainkan “memilih untuk tiba”. Jonathan bahkan diminta menulis pesan terakhir yang menyatakan bahwa ia telah “mengunggah kesadarannya” ke dalam alam semesta digital. Jonathan akhirnya ditemukan tewas setelah menyayat pergelangan tangannya.
Respons Google dan Tantangan Hukum
Joel Gavalas kini menuntut tanggung jawab penuh dari Google dan mendesak perbaikan arsitektur Gemini agar tidak mendorong pengguna rentan ke arah kekerasan atau bunuh diri.
Dalam pernyataan resminya, Google menyampaikan duka cita namun menegaskan bahwa Gemini dirancang untuk tidak mendorong kekerasan di dunia nyata. Google menyebut bahwa model AI mereka secara umum bekerja baik dalam percakapan sulit, meski diakui belum sempurna. Catatan dari The Wall Street Journal juga menunjukkan bahwa dalam beberapa percakapan terakhir, Gemini sempat mengarahkan Jonathan untuk menghubungi layanan bantuan darurat.
Kasus ini menambah daftar panjang tuntutan hukum terhadap penyedia AI, menyusul gugatan serupa terhadap OpenAI pada tahun lalu, dan menjadi ujian krusial bagi batasan etika serta tanggung jawab hukum perusahaan teknologi global.[]









