BREAKING

ACEH

Salat Tarawih Perdana Korban Banjir Pidie di Meunasah Darurat

Haru! Warga Manyang Cut, Pidie Jaya laksanakan salat Tarawih perdana di Meunasah darurat akibat banjir. Simak kondisi terkini dan kebutuhan mendesak mereka.

PIDIE JAYA – Di tengah kepungan banjir yang melanda kawasan Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya, semangat ibadah warga tidak surut. Pada Rabu (18/2/2026) malam, puluhan warga korban terdampak banjir melaksanakan salat Tarawih perdana bulan Ramadan di sebuah Meunasah darurat setelah tempat ibadah utama mereka terendam luapan air.

Ibadah di Tengah Keterbatasan

Hujan deras yang mengguyur wilayah Pidie Jaya dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan sungai meluap dan merendam pemukiman warga serta fasilitas publik. Meunasah darurat yang didirikan secara swadaya menjadi pusat aktivitas religi sekaligus tempat pengungsian sementara.

Meskipun beralaskan tikar seadanya dan diiringi suara rintik hujan, suasana tarawih berlangsung khidmat. Warga mengaku tetap bersyukur dapat menyambut bulan suci Ramadan meskipun rumah-rumah mereka masih tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

Kondisi Pengungsi dan Kebutuhan Mendesak

Banjir tidak hanya mengganggu aktivitas ibadah, tetapi juga melumpuhkan ekonomi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang. Saat ini, kebutuhan mendesak bagi para korban banjir di Manyang Cut meliputi:

Logistik Makanan: Bahan pokok untuk sahur dan buka puasa, Perlengkapan Ibadah: Sajadah dan mukena kering karena banyak yang terendam lumpur.

Obat-obatan: Warga mulai mengeluhkan gatal-gatal dan demam akibat genangan air yang tak kunjung surut. Penerangan: Beberapa titik masih mengalami pemadaman listrik untuk menjaga keamanan instalasi.

Harapan Warga kepada Pemerintah

Tokoh masyarakat setempat berharap adanya langkah cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya untuk menyalurkan bantuan masa panik, terutama di titik-titik pengungsian darurat seperti Meunasah. Selain itu, perbaikan saluran irigasi dan normalisasi sungai menjadi tuntutan utama agar bencana tahunan ini tidak terus berulang.

“Kami berharap air segera surut agar kami bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih tenang di rumah dan Meunasah utama,” ujar salah satu warga di lokasi.

Kejadian ini memicu gelombang solidaritas dari komunitas lokal dan organisasi kemanusiaan di Aceh. Berbagai kelompok pemuda mulai menggalang donasi “Sahur untuk Korban Banjir” guna memastikan para pengungsi dapat menjalankan ibadah puasa dengan layak meski dalam kondisi darurat.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts