SEANTERONEWS.com – Dinamika konflik di perbatasan utara Suriah mengalami perubahan signifikan yang disambut hati-hati namun positif oleh Turki. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada Kamis (05/02), menyatakan bahwa kesepakatan terbaru yang terjalin antara pemerintah Suriah (Damaskus) dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) telah “meredakan tekanan” terhadap proses perdamaian internal dan keamanan nasional Turki.
Pernyataan ini menandai pergeseran taktis dalam pandangan Ankara terhadap situasi di negara tetangganya, mengingat Turki selama ini memandang elemen-elemen dalam SDF sebagai ancaman keamanan utama.
Dampak Kesepakatan bagi Keamanan Turki
Erdogan menilai bahwa kembalinya kendali Damaskus atas wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh milisi SDF membawa implikasi strategis bagi Turki:
Dengan terintegrasinya atau adanya kesepakatan antara SDF dan rezim Bashar al-Assad, kekhawatiran Turki akan berdirinya “negara teror” otonom di perbatasan selatannya menjadi berkurang.
Erdogan menyebut bahwa situasi yang lebih stabil di Suriah memberikan ruang napas bagi Turki untuk fokus pada “proses perdamaian” domestik, yang kemungkinan merujuk pada upaya penyelesaian masalah Kurdi di dalam negeri tanpa gangguan eksternal.
Jika Damaskus mengambil alih keamanan perbatasan, kebutuhan Turki untuk melakukan operasi militer lintas batas menjadi berkurang secara signifikan.
Konteks: Hubungan Rumit Ankara-Damaskus-SDF
Turki telah lama menganggap unit perlindungan rakyat (YPG) komponen utama SDF sebagai perpanjangan tangan dari PKK, kelompok yang dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Ankara, AS, dan Uni Eropa.
Kesepakatan Damaskus-SDF ini kemungkinan besar memaksa milisi Kurdi untuk menyerahkan otoritas militer dan administratif kepada pemerintah pusat Suriah demi menghindari konflik ganda.
Komentar lunak Erdogan ini juga sinyal bahwa Turki semakin terbuka untuk menormalisasi hubungan dengan Damaskus, asalkan integritas wilayah Suriah terjaga dan ancaman terorisme dinetralisir.
Harapan Stabilitas Regional
Langkah ini dilihat oleh para pengamat sebagai potensi titik balik dalam konflik Suriah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Dengan meredanya ketegangan antara aktor-aktor utama, koridor kemanusiaan dan repatriasi pengungsi Suriah dari Turki mungkin akan menjadi agenda prioritas berikutnya.
“Ini adalah perkembangan yang melegakan. Jika otoritas negara (Suriah) kembali, maka celah bagi kelompok separatis untuk mengancam keamanan kami menjadi tertutup,” tegas Erdogan dalam pidatonya.[]









