SEANTERONEWS.com – Peta kekuatan di wilayah utara Suriah mengalami pergeseran dramatis di awal tahun 2026. Pasukan militer Suriah dilaporkan telah berhasil mengambil alih kendali penuh atas sejumlah kota strategis di wilayah Aleppo Timur. Langkah ini menyusul keputusan mendadak dari kelompok pejuang Kurdi yang memilih untuk menarik mundur pasukannya dari zona tersebut.
Peristiwa per 17 Januari 2026 ini menandai babak baru dalam dinamika konflik yang telah berlangsung lama, sekaligus memperkuat cengkeraman pemerintah Damaskus di wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi sengketa.
Berdasarkan laporan lapangan yang dihimpun oleh Al Jazeera, proses transisi kekuasaan ini berlangsung relatif cepat.
Penarikan mundur pejuang Kurdi diduga kuat merupakan hasil dari negosiasi di balik layar untuk menghindari bentrokan bersenjata yang lebih besar dengan militer pusat.
Kelompok Kurdi dilaporkan memilih untuk memusatkan kekuatannya di wilayah lain yang dianggap lebih krusial di tengah meningkatnya tekanan dari arah utara.
Tak lama setelah posisi dikosongkan, unit-unit tentara Suriah langsung masuk untuk mengamankan infrastruktur penting dan gedung-gedung pemerintahan di kota-kota tersebut.
Penguasaan kembali Aleppo Timur oleh tentara pemerintah membawa implikasi besar bagi masa depan stabilitas kawasan:
Dengan menguasai kota-kota ini, Damaskus kini memegang kunci jalur distribusi logistik yang menghubungkan wilayah tengah dengan perbatasan timur.
Mundurnya pejuang Kurdi memperlihatkan adanya pergeseran prioritas politik yang bisa mengubah pola kerja sama antara kelompok-kelompok bersenjata di Suriah.
Banyak warga lokal kini menaruh harapan sekaligus kekhawatiran terhadap perubahan otoritas ini, terutama terkait layanan dasar dan keamanan pasca-perang.
Pergerakan militer ini dipantau ketat oleh negara-negara tetangga dan kekuatan global. Para analis memperingatkan bahwa penguasaan Aleppo Timur oleh tentara Suriah dapat memicu reaksi dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam menjaga keseimbangan kekuatan di wilayah utara.
“Ini adalah langkah besar bagi pemerintahan Assad untuk memulihkan kedaulatan wilayah, namun tantangan sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan stabilitas di tengah masyarakat yang masih terpecah,” ungkap seorang analis keamanan regional dalam laporan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pasukan Suriah dilaporkan terus melakukan operasi pembersihan dan pengamanan untuk memastikan tidak ada kantong-kantong perlawanan yang tersisa. Sementara itu, evakuasi pejuang Kurdi menuju wilayah otonom mereka di timur laut dikabarkan berlangsung tanpa insiden berarti.[]









