ANKARA – Temperatur politik di Turki mendidih menjelang perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang diagendakan bergulir pekan depan. Pada Minggu (5/7/2026), otoritas keamanan setempat dilaporkan telah membubarkan dan menahan lebih dari 100 pedemo yang turun ke jalan untuk menolak aliansi militer tersebut.
Gelombang unjuk rasa ini diinisiasi secara terpusat oleh Partai Komunis Turki (TKP). Melalui keterangan resminya, TKP mengonfirmasi bahwa seratusan peserta aksi yang diringkus oleh pihak berwajib merupakan kader dan simpatisan partai yang sedang menyuarakan penolakan terhadap pertemuan para pemimpin blok Barat di negara mereka.
Dalam orasi dan aksinya di Lapangan Kizilay, Ankara, kelompok demonstran membentangkan beragam spanduk bernada kecaman. Mereka menuntut dengan tegas agar keanggotaan dan intervensi Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu segera angkat kaki dari wilayah Turki. Protes dengan skala dan tuntutan serupa juga pecah di kawasan ikonik Lapangan Taksim, Istanbul, di bawah bayang-bayang barikade ketat aparat kepolisian.
Sikap Keras Penentang NATO
Sekretaris Jenderal TKP, Kemal Okuyan, membenarkan bahwa pergerakan massa tersebut adalah manifestasi sikap politik absolut partainya dalam menentang hegemoni NATO.
“Hari ini massa berkumpul di berbagai sudut Turki untuk menentang NATO,” ujar Okuyan dalam pernyataan resminya.
Ia menegaskan bahwa kubunya tidak akan membiarkan ibu kota negara menjadi arena karpet merah bagi aliansi tersebut tanpa ada perlawanan dari rakyat. “Kami sejak awal menegaskan tidak akan menyerahkan Ankara kepada para pendukung NATO dan tidak akan membiarkan kota ini bisu. Hari ini, janji itu kami buktikan,” tandasnya.
Pengamanan Ekstra Ketat Jelang Puncak KTT
Merespons eskalasi unjuk rasa ini, pemerintah Turki langsung merapatkan barisan. Menjelang kedatangan para kepala negara dan delegasi dari 32 negara anggota NATO, otoritas Ankara mempertebal sistem keamanan di sejumlah objek vital. Kebijakan pembatasan ruang gerak publik juga diberlakukan, termasuk larangan total untuk menggelar demonstrasi di area-area strategis tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah maupun kepolisian Turki belum merilis pernyataan resmi perihal rincian pasti jumlah warga yang ditahan, maupun landasan hukum yang dikenakan kepada para peserta unjuk rasa.
KTT NATO di Ankara ini diproyeksikan menjadi salah satu agenda diplomatik paling krusial sepanjang tahun 2026. Pertemuan tingkat tinggi tersebut akan membedah arsitektur keamanan kawasan, strategi pertahanan kolektif, serta merumuskan respons aliansi terhadap dinamika geopolitik global yang kian memanas.[]









