SEANTERONEWS.com – Sebuah laporan investigasi mendalam mengungkap tren yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat India. Kelompok ekstremis sayap kanan kini dilaporkan mulai mengalihkan fokus serangan mereka, yang sebelumnya menyasar kelompok minoritas lain, kini secara agresif menargetkan komunitas Kristen di berbagai wilayah di India.
Eskalasi kekerasan dan narasi kebencian ini memicu kecemasan hebat di kalangan warga minoritas dan menjadi sorotan tajam organisasi hak asasi manusia internasional.
Inti dari meningkatnya ketegangan ini adalah tuduhan tanpa bukti mengenai “konversi agama paksa” yang dilakukan oleh misionaris atau organisasi Kristen. Ekstremis sering kali menggunakan narasi ini untuk memicu kemarahan massa dan melegitimasi aksi kekerasan mereka.
Laporan menyebutkan banyaknya kasus massa yang menggeruduk gereja atau rumah doa saat ibadah Minggu sedang berlangsung.
Tak hanya verbal, kekerasan fisik terhadap pemuka agama dan jemaat kian sering terjadi, terutama di daerah pedesaan yang jauh dari jangkauan pengawasan ketat pihak berwenang.
Beberapa pakar menilai bahwa undang-undang anti-konversi yang diterapkan di sejumlah negara bagian India justru sering disalahgunakan untuk mengkriminalisasi aktivitas keagamaan yang sah.
Banyak warga Kristen ditangkap hanya berdasarkan laporan sepihak tanpa penyelidikan mendalam.
Penegakan hukum yang dianggap timpang membuat pelaku kekerasan merasa kebal hukum, sehingga serangan terus berulang.
Bagi komunitas Kristen di India, serangan ini bukan sekadar masalah keamanan fisik, melainkan ancaman terhadap identitas dan ruang hidup mereka. Banyak keluarga kini merasa takut untuk berkumpul atau sekadar menunjukkan simbol keagamaan mereka di ruang publik.
“Kami hanya ingin beribadah dengan tenang, tapi sekarang setiap langkah kami diawasi dengan penuh curiga,” ungkap salah satu warga lokal yang menjadi korban intimidasi dalam laporan tersebut.
Al Jazeera menyoroti bahwa situasi ini telah memicu reaksi dari berbagai lembaga internasional yang mendesak pemerintah India untuk mengambil tindakan tegas dalam melindungi seluruh warga negaranya tanpa memandang agama. Para aktivis menekankan bahwa jika spiral kebencian ini tidak segera dihentikan, fondasi sekularisme dan harmoni sosial di India terancam runtuh sepenuhnya.[]










