SEANTERONEWS.com — Habib Rizieq Shihab melontarkan kritik tajam kepada pemerintah terkait penanganan bencana di wilayah Sumatra. Dalam ceramahnya, ia menyindir sikap pemerintah yang dianggapnya memiliki standar ganda dalam menangani bantuan asing dan utang negara.
Ia menilai bahwa enggan menerima bantuan asing bukanlah hal yang perlu dibanggakan, terutama ketika kondisi di lapangan masih menunjukkan banyak kekurangan dalam pemulihan pascabanjir dan longsor. Rizieq mempertanyakan alasan pemerintah yang disebutnya menolak bantuan luar negeri sementara tidak enggan mengambil utang dalam jumlah besar.
Menurutnya, penetapan status bencana nasional bukan sesuatu yang memalukan, melainkan langkah penting agar penanganan bencana bisa dilakukan dengan cepat dan optimal. Ia menyebutkan contoh penanganan bencana besar di masa lalu sebagai bukti efektivitas status bencana nasional dalam mempercepat bantuan.
Rizieq juga menyinggung bahwa sikap sebagian menteri yang menurutnya meremehkan bantuan dari negara tetangga menunjukkan kesombongan yang tidak perlu. Ia mendorong pemerintah untuk lebih terbuka menerima bantuan demi kebaikan bersama di tengah kondisi darurat.
Dalam ceramahnya, ia sempat membandingkan respons pemerintah saat ini dengan tindakan cepat yang dilakukan pada bencana terdahulu, seperti tsunami di Nusa Tenggara Timur dan Aceh, di mana penetapan status bencana nasional membantu mempercepat aliran bantuan internasional.
Ia menegaskan bahwa kritik bukan semata soal menerima bantuan asing, tetapi soal komitmen pemerintah dalam menjalankan tugas kemanusiaan secara efektif tanpa terjebak dalam pertimbangan gengsi politik.
Selain itu, Rizieq menyoroti pula masalah laporan kondisi di lapangan yang menurutnya tidak selalu akurat ketika disampaikan kepada Presiden. Ia menilai ketidakjujuran dalam laporan bisa menyesatkan pengambilan keputusan penting.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa jika pemerintah tidak jujur melihat realitas di lapangan, banyak masyarakat di daerah terdampak bencana yang tetap kekurangan logistik, air bersih, dan fasilitas dasar lainnya.
Rizieq mengajak masyarakat untuk menilai tindakan pemerintah secara kritis, tanpa mengabaikan konteks tantangan yang dihadapi dalam penanganan bencana. Ia berharap pemerintah dapat bersikap lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat.
Pernyataan ini memicu beragam respons di ruang publik, dengan sebagian kelompok menganggap kritik tersebut sebagai bentuk kontrol sosial, sementara yang lain melihatnya sebagai sorotan tajam terhadap kebijakan pemerintah yang perlu diperbaiki.[]









