SEANTERONEWS.com — Pengamat politik Rocky Gerung memunculkan kembali perdebatan publik setelah menyampaikan prediksi akan munculnya “konflik besar” pada awal 2026. Menurutnya, gejolak dapat timbul jika ketegangan politik, ekonomi, dan ketidakpuasan sosial terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang adil dan transparan.
Rocky menilai, sejumlah indikator sudah terlihat sejak sekarang. Ia menyebut polarisasi politik yang tak mereda, ketimpangan kesejahteraan, serta menurunnya kepercayaan terhadap lembaga publik sebagai faktor yang berpotensi memicu krisis.
Ia menegaskan, istilah “konflik besar” bukan semata merujuk pada benturan fisik, melainkan juga pertarungan wacana, perebutan pengaruh, dan keguncangan tata kelola negara. Menurutnya, jika tidak dikelola secara demokratis, kondisi itu dapat meluas dan berdampak pada stabilitas nasional.
Rocky juga menyoroti pentingnya peran oposisi, media independen, dan masyarakat sipil dalam menjaga ruang kritik. Tanpa pengawasan publik, kebijakan pemerintah berisiko tidak dikoreksi, sehingga memunculkan keputusan yang justru menambah masalah.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis membaca informasi dan tidak mudah terjebak pada narasi yang menyesatkan. Literasi politik, kata Rocky, merupakan “vaksin” terhadap manipulasi dan propaganda.
Di sisi lain, Rocky menegaskan bahwa pemerintah masih memiliki peluang besar mencegah risiko tersebut. Dialog terbuka, kebijakan berbasis data, serta keberanian mengoreksi kesalahan dinilai menjadi kunci meredakan ketegangan.
Menurutnya, elite politik juga harus menunjukkan keteladanan. Persaingan kekuasaan yang berlebihan tanpa mempertimbangkan kepentingan publik hanya akan memperlebar jurang ketidakpercayaan.
Rocky menambahkan, prediksinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai peringatan dini agar semua pihak lebih waspada. Ia berharap, dinamika menuju 2026 justru menjadi momentum memperkuat demokrasi dan keadilan sosial.[]









