SEANTERONEWS.com – Warga Desa Jamat, Aceh Tamiang, mengungkapkan kondisi sulit yang mereka alami setelah lebih dari 23 hari terisolasi akibat putusnya akses jalan pascabanjir bandang dan longsor. Selama itu pula warga mengalami berbagai kendala dalam menjalankan aktivitas harian sekaligus menghidupkan usaha yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Warga menegaskan bahwa mereka bukan datang untuk mengemis bantuan, tetapi hanya meminta agar akses jalan utama kembali dibuka agar mobilitas usaha dan kehidupan sosial bisa berjalan kembali. Selama jalan tertutup, banyak kebutuhan dasar menjadi sulit dipenuhi karena mobilitas logistik terhambat, sementara peluang kerja dan usaha masyarakat nyaris lenyap.
Menurut para warga, keterisolasian desa membuat distribusi barang dagangan, hasil pertanian, serta kebutuhan pokok tidak lancar. Sejumlah pelaku usaha kecil bahkan mengalami kerugian besar karena tak bisa menjual hasil produksinya ke pasar atau menerima pasokan barang. Kondisi ini turut menciptakan tekanan ekonomi di tengah situasi pascabanjir yang sudah berat.
Anak-anak dan lansia ikut merasakan dampak langsung dari putusnya jalur transportasi. Akses ke layanan kesehatan, sekolah, hingga pengiriman obat-obatan menjadi jauh lebih rumit. Para orang tua mengatakan bahwa kebutuhan mendesak seperti pangan, pakaian, dan air bersih harus diperjuangkan secara intens di tengah keterbatasan yang terus berlangsung.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang segera memprioritaskan pembukaan akses jalan sebagai langkah awal untuk pemulihan. Menurut mereka, pemulihan ekonomi desa tidak bisa berjalan tanpa keterhubungan transportasi yang normal, karena akses jalan menjadi “urat nadi” kehidupan desa dan usaha warga.
Mereka juga menyampaikan bahwa selama masa isolasi panjang itu, solidaritas antarwarga tetap tinggi — saling membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menjaga keamanan lingkungan. Namun warga mengakui bahwa solidaritas saja tidak cukup tanpa pemulihan infrastruktur yang menjadi pondasi kehidupan ekonomi masyarakat.
Permintaan warga Jamat bukan sekadar soal mobilitas semata, melainkan ikhtiar untuk mempertahankan usaha, penghidupan keluarga, serta memastikan masa depan desa tidak terpuruk berkepanjangan akibat dampak bencana. Mereka berharap suara ini didengar dan dijadikan prioritas dalam program pemulihan pascabanjir di Aceh Tamiang.[]









