SEANTERONEWS.com – Dominasi mutlak Starlink di pasar internet satelit orbit rendah (LEO) akan segera menghadapi tantangan terbesarnya. Raksasa e-commerce Amazon melalui Project Kuiper dikabarkan sedang memacu persiapan untuk menghadirkan kompetisi nyata bagi layanan milik Elon Musk tersebut pada tahun 2026.
Meski saat ini Starlink telah memiliki jutaan pelanggan di seluruh dunia, laporan terbaru dari PCMag menyoroti apakah Amazon benar-benar mampu memberikan perlawanan seimbang atau justru masih tertinggal jauh di belakang manuver SpaceX.
Project Kuiper bukan sekadar proyek sampingan. Amazon berencana meluncurkan ribuan satelit untuk membangun jaringan internet global yang menjanjikan kecepatan tinggi dan latensi rendah. Namun, tantangan terbesarnya adalah waktu. Sementara SpaceX sudah memiliki ribuan satelit operasional, Amazon masih dalam tahap penyebaran awal.
Amazon dijadwalkan untuk memulai peluncuran satelit secara komersial dalam skala besar mulai tahun 2025 hingga 2026 guna memenuhi syarat lisensi regulator.
Keunggulan utama Kuiper adalah integrasi langsung dengan layanan AWS (Amazon Web Services), yang bisa menjadi daya tarik utama bagi sektor bisnis dan pemerintahan.
Analis memprediksi bahwa masuknya Amazon akan memicu “perang harga” yang sangat menguntungkan bagi konsumen, terutama di daerah terpencil yang selama ini hanya bergantung pada Starlink.
Pertanyaan besarnya tetap: Apakah Amazon sudah terlambat? Saat ini, Starlink terus berinovasi dengan teknologi satelit generasi terbaru yang mampu mentransmisikan data langsung ke ponsel pintar (Direct-to-Cell). Amazon harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa teknologi antena dan satelit mereka tidak hanya setara, tetapi bisa melampaui efisiensi yang ditawarkan SpaceX.
Kehadiran Project Kuiper akan memberikan opsi lebih luas bagi pengguna internet di wilayah dengan infrastruktur kabel yang minim. Persaingan ini diprediksi akan mempercepat penurunan harga perangkat antena (parabola) dan biaya langganan bulanan di masa depan.[]










