BREAKING

OPINI

Banjir Nuh AS Dalam Perspektif Al-Qur an, Injil, dan Ilmu Pengetahuan Modern

Oleh: Zul Fajri Joesva,M.H**

Banjir bukanlah fenomena baru dalam sejarah peradaban manusia. Ketiga manuskrip kitab suci baik Al-Qur’an, Injil, maupun Taurat yang berbahasa rumpun semitik memaparkan secara lugas. Dalam mozaik besar sejarah peradaban manusia, terdapat kisah-kisah yang mengendap dalam teks kuno, mitologi, dan bahkan kitab suci non-samawi. Sosok Nuh (Manu dalam tradisi Hindu) adalah leluhur manusia yang selamat dari banjir besar dengan membuat sebuah kapal besar, membawa serta kebaikan benih kehidupan dan nilai-nilai kebaikan. Nuh menjadi penyusun tatanan hukum, moral, dan sosial kemasyarakatan.

Manachem Ali, pakar filologi dan studi lintas agama Universitas Airlangga mengatakan bahwa kisah tentang tokoh penyelamat banjir bah tersebar luas di hampir semua peradaban tua, termasuk dalam kitab Weda, Purana, Al-Quran, Alkitab (Perjanjian Lama), dan kitab Mesopotamia kuno. Ini menunjukkan bahwa umat manusia memiliki shared memory atau memori kolektif spritual yang diwariskan dari satu peristiwa monumental, yang oleh banyak tradisi disebut sebagai banjir besar. Kisah ini sejajar dengan dengan narasi nabi Nuh As dalam Al-Qur’an dan Noah dalam Injil, yang diperintahkan tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dari azab banjir.

Yang menjadi permasalahannya adalah apakah banjir tersebut bersifat lokal atau bersifat universal atau dengan kata lain, apakah hanya melanda di suatu daerah tertentu atau meliputi seluruh permukaan bumi?

Banjir versi Al-Quran

Sejarah banjir besar zaman Nabi Nuh adalah salah kisah paling dikenal ajaran Islam, Kristen dan Yahudi. Kisah Nabi Nuh dan kaum yang ditenggelamkan disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an, di antaranya: Al-‘Araf 7 ayat 59-63, Yunus 10 Ayat: 71-73, Hud Ayat: 25-49, Al-Anbiya’ 21 Ayat: 76-77, Al-Mu’minun 23 Ayat: 23-30, Al-Furqan 25 Ayat: 37, Asy-Syu’ara 26 Ayat: 105-122, Al-‘Ankabut 29 Ayat: 14-15, Ash-Shaffat 37 Ayat: 75-82, Al-Ghafir 40 Ayat: 5, Adz-Dzariyat 51 Ayat: 46, Al-Qamar 54 Ayat: 9-17. Bahkan ada surah khusus yang menjelaskan tentang Nabi Nuh, yaitu surah ke-71, Surah Nuh.

Dalam surat Al-‘Ankabut 29 ayat: 14, berbunyi “Dan sungguh, kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang zalim”. Allah mengutus Nabi Nuh sebagai Rasul kepada umatnya selama 950 tahun untuk mengajak menyembah Allah dan meninggalkan berhala. Namun dakwah Nabi Nuh ditolak kaumnya, dan bahkan mereka tidak percaya Nabi Nuh adalah seorang rasul. Hingga kemudian, Nabi Nuh diperintahkan membuat kapal besar untuk membawa orang-orang yang beriman. Sementara orang-orang yang mengingkari Nabi Nuh kemudian ditenggelamkan dalam banjir besar.

Dari sudut pandang Al-Qur’an, sangat jelas dan logis bahwa banjir Nuh bersifat lokal. Hal ini didasarkan pada pola umum yang sering diulang dalam kisah para nabi: Allah mengutus seorang nabi kepada kaumnya, kaum tersebut menolak dan bahkan mengancam nabi itu, lalu Allah menurunkan azab hanya kepada kaum pembangkang tersebut. Dengan logika ini, tidak masuk akal jika Allah menghancurkan seluruh umat manusia di bumi hanya karena dosa yang dilakukan oleh satu kaum di suatu wilayah. Jadi, banjir itu adalah hukuman yang spesifik untuk kaum Nabi Nuh yang menolak dakwahnya.

Berangkat dari pola tersebut, mengapa sebagian Muslim berpendapat bahwa banjir itu bersifat universal? Mereka biasanya mengutip Surah As-Saffat ayat 77, menyatakan “Dan Kami jadikan keturunannya orang-orang yang tetap hidup.” Ayat ini merujuk pada keturunan Nabi Nuh dan para pengikutnya yang selamat di dalam bahtera. Namun, menafsirkan ayat ini sebagai bukti bahwa mereka adalah satu-satunya manusia yang tersisa di seluruh dunia adalah penafsiran yang lemah dan tidak didukung oleh konteks Al-Qur’an secara keseluruhan.

Ada argumen lain yang menyatakan bahwa populasi manusia pada masa Nabi Nuh masih terkonsentrasi di satu wilayah saja, sehingga banjir lokal sama saja dengan banjir universal. Namun, pandangan ini menimbulkan masalah teologis. Ulama Ibn ‘Atiyyah menjelaskan bahwa dalam keyakinan Islam, Nabi Muhammad adalah satu-satunya nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia (nabi universal). Nabi-nabi lain, termasuk Nabi Nuh, diutus khusus untuk kaum mereka. Jika kita menganggap Nabi Nuh juga nabi universal, maka hal ini akan bertentangan dengan keunikan Nabi Muhammad sebagai utusan untuk seluruh alam semesta.

Upaya untuk menafsirkan kisah banjir Nabi Nuh sebagai peristiwa universal menghadapi berbagai tantangan, baik dari bukti ilmiah maupun dari dalam kitab suci Islam itu sendiri. Oleh karena itu, lebih tepat dan logis untuk menyimpulkan bahwa banjir Nuh adalah peristiwa lokal.

Banjir versi Al-Kitab (Injil)

Kisah banjir zaman Nabi Nuh juga dijelaskan dalam Perjanjian Lama dengan sedikit berbeda. Allah mengamati perilaku jahat manusia dan memutuskan untuk mengirimkan banjir global. Karena Nabi Nuh adalah orang pilihan, menurut kisah tersebut, Allah memerintahkannya untuk membangun bahtera bagi pengikutnya dan menyelamatkan dua dari setiap binatang, burung dan binatang melata.

Pada Kitab Kejadian Bab 6 Ayat: 13-17 “(13) Lalu berkatalah Allah kepada Nuh, “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk. Aku akan memusnahkan mereka beserta bumi, karena bumi telah penuh dengan kekejaman mereka. (14) Buatlah sebuah kapal untukmu dari kayu yang kuat; buatlah bilik-bilik di dalamnya, dan lapisilah dengan ter dari dalam dan dari luar. (15) Kapal itu harus 300 hasta panjangnya, 50 hasta lebarnya, dan 30 hasta tingginya. (16) Buatlah atap pada kapal itu, dan selesaikan bahtera bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya. Buatlah kapal itu bertingkat tiga: bawah, tengah, dan atas. (17) Aku akan mendatangkan banjir untuk membinasakan setiap makhluk yang hidup di bumi. Segala sesuatu di bumi akan mati.

Menurut Perjanjian Lama dalam Kitab Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis  manusia dengan seluruh makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali dimulai dengan tiga orang putra Nuh dan isteri-isteri mereka, sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim mendapatkan jenis manusia sudah pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana dalam waktu yang singkat, jenis manusia dapat pulih kembali? Soal ini telah menghilangkan kepercayaan kepada riwayat banjir Nuh. Untuk mengatasi banjir besar tersebut, tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan dari bencana tersebut.

Menurut Whitcomb dan Morris, dalam buku “The Genesis Flood”, ukuran bahtera ini kira-kira panjang 437,5 kaki/133,34 meter, lebar 79,92 kaki/24,4 meter dan tinggi 43,75 kaki/13,3 meter (dengan perhitungan 17,5 inci/445,5 mm per kubit). Bahtera tersebut memiliki tiga tingkat/anjungan. Berarti total area anjungan berkisar 95.700 kaki persegi (8.890 meter persegi). Sehingga volume sekitar 1.396.000 kaki kubik (39.5 juta liter). Tonasi kasar bahtera berarti sekitar 13.960 ton. Ini sebanding dengan beberapa kapal modern. McDowell juga menunjukkan bahwa kapasitas angkutnya setara dengan 522 gerbong pengangkut ternak ukuran standar masing-masing akan mengangkut 240 domba. Bahtera tersebut mampu menampung paling tidak 125.000 domba. Dengan menimbang fakta bahwa kebanyakan hewan darat lebih kecil dari domba, tentu hal ini signifikan.

Whitcomb dan Morris memutuskan bahwa terdapat kurang dari 17.600 spesies hewan mamalia, burung, reptil, dan amfibi dari yang diketahui saat ini, yang berada dalam perlindungan bahtera. Sumber lainnya seperti J. Woodmorappe juga telah melakukan studi yang mirip. Mungkin dengan beberapa pengecualiaan, Nuh sepertinya tidak membawa masuk hewan-hewan yang sudah besar. Berarti hewan yang lebih muda tentu membutuhkan ruang dan makanan lebih sedikit, termasuk membuang kotoran lebih sedikit. Dengan menghitung dua dari setiap spesies di dalam bahtera, berarti ada cukup ruang untuk hanya sekitar 35.200 hewan (2 x 17.600) ditambah lima dari setiap binatang yang tidak najis (supaya tidak panjang berdebat kita anggap saja setengah dari spesies yang ada atau 8.800 x 5=44.000). Berarti, total maksimal 79.000 hewan berada di dalam bahtera. Jelas bahtera jauh dari mampu untuk menampung semua beban ini.

Menurut Penulis, argumen Whitcomb dan Morris seperti mengada-ada dan mencari ruang rasionalitas antara ukuran bahtera dan jumlah muatan yang diangkut bahtera tersebut yang seolah-olah apa yang dinarasikan oleh Injil itu sesuatu yang reasonable. Menurut Penulis dengan mendasarkan pada Kitab Kejadian Bab 6 ayat:15 menyebutkan bahtera tersebut memiliki panjang 300 hasta, lebarnya 50 hasta, dan tingginya 30 hasta. Dalam versi internasional baru dikatakan panjangnya 450 kaki, lebar 75 kaki, dan tingginya 45 kaki. Selanjutnya Kejadian Bab ayat:16, Injil menceritakan bahwa bahtera tersebut memiliki tiga tingkat: tingkat bawah (lantai dasar), tingkat tengah (ruang penyimpan satu), dan tingkat atas (ruang penyimpan dua). Nuh dan keluarganya serta binatang liar, segala jenis ternak, segala jenis binatang melata yang merayap di bumi, dan juga segala burung. Dan mereka berlayar dan tinggal dalam bahtera selama 40 hari.

Dari data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahtera tersebut memiliki volume 150.000 kaki kubik dan luas arealnya 33.750 kaki kubik. Dan kita tahu bahtera tersebut memiliki tiga lantai, luas bahtera per lantai adalah 33.750 kaki kubik, kemudian kita kalikan tiga dan hasilnya 101.250 kali persegi. Apakah mungkin jutaan spesies yang ada di seluruh dunia ditampung ke dalam bahtera seluas 101.250 kali persegi? Sangat tidak mungkin hal itu terjadi!

Banjir versi Ilmu Pengetahuan Modern

Para sejarawan  menempatkan nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM. Jika banjir telah terjadi 3 abad sebelum Nabi Ibrahim seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad XXI atau XXII SM. Pada waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan bermacam-macam dinasti waktu itu, bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan Pertengahan (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum dinasti kesebelas. Zaman itu adalah periode dinasti ketiga di kota Ur atau Babilon. Kita tahu dengan pasti bahwa tak ada keterputusan dalam  kebudayaan, jadi tak ada pemusnahan jenis manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.

David Montgomery seorang profesor geomorfologi di University of Washington di Seattle mengatakan, suatu hal yang pasti tidak pernah terjadi banjir universal dalam sejarah peradaban manusia. Di samping itu, bukti-bukti historis dan arkeologis menunjukkan ketidakserasian riwayat Injil Perjanjian Lama dengan ilmu pengetahuan modern. Montgomery juga penulis “The Rocks Don’t Lie: A Geologist Investigates Noah’s Flood” (W. W. Norton & Company, 2012) “Seandainya kita melihat banjir Nuh sebagai banjir global yang menutupi gunung tertinggi di dunia, maka tidak ada cukup air di bumi untuk melakukan itu”. Jika “langit” terbuka dan semua air di atmosfer turun sekaligus sebagai hujan, planet ini akan tenggelam.

Montgomery menganggap sumber sejarah banjir Nuh sebagai banjir regional dan bukan banjir global, maka tidak terlalu mengada-ada dan bisa diterima. Montgomery menjelaskan bahwa banjir yang diceritakan Quran masuk akal secara geologis. Hal ini diperkuat temuan pada akhir 1990-an, ahli kelautan William Ryan dan Walter Pitman berhipotesis pada pertemuan American Geophysical Union bahwa sekitar 7.500 tahun yang lalu, Laut Mediterania mulai mengalir ke Laut Hitam yang saat itu terisolasi.

Dari perspektif ini, kita melihat adanya keselarasan yang luar biasa antara ajaran Islam dan ilmu pengetahuan modern. Keyakinan bahwa banjir itu bersifat lokal selaras dengan temuan di bidang arkeologi, geologi, dan sejarah, yang tidak menemukan bukti adanya banjir global. Dengan demikian, Islam menawarkan solusi yang mengharmoniskan iman dan rasionalitas. Tidak ada konflik antara keduanya, melainkan hubungan yang saling mendukung, di mana pandangan keagamaan justru memperkuat dan compatible dengan temuan ilmiah.[]

**). Penulis adalah Penduduk Desa Matangkeh, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara

 

 

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts