SEANTERONEWS.com – Gelombang krisis keterjangkauan properti global telah memicu dampak sosial dan psikologis yang mendalam, terutama di kalangan generasi muda. Sebuah laporan krusial mengungkap bahwa rasa putus asa terhadap kepemilikan rumah telah mendorong Milenial dan Gen Z ke dalam tren gaya hidup dan keuangan yang mengejutkan, seperti ‘Doom Spending’ dan ‘Quiet Quitting’.
Hilangnya harapan untuk mencapai impian (impian kepemilikan properti di usia muda) telah memicu pergeseran sikap yang radikal terhadap pekerjaan, uang, dan masa depan.
Inti dari krisis ini adalah fakta bahwa harga rumah, suku bunga hipotek, dan inflasi telah tumbuh jauh lebih cepat daripada gaji. Bagi banyak Milenial dan Gen Z, menabung untuk uang muka properti kini terasa seperti perlombaan yang mustahil untuk dimenangkan.
Rasa frustrasi inilah yang melahirkan sikap “Mengapa repot-repot menabung?” yang memicu fenomena:
-
Doom Spending (Belanja Bencana): Membelanjakan uang secara boros untuk hal-hal yang tidak penting, seperti liburan mewah atau crypto berisiko tinggi, dengan alasan “dunia akan kiamat finansial, jadi nikmati saja uangnya sekarang.”
-
Quiet Quitting (Resign Diam-Diam): Melakukan pekerjaan hanya sebatas kewajiban minimum, menolak bekerja lembur atau mengambil tanggung jawab ekstra, karena mereka merasa bahwa usaha keras tidak akan pernah membuahkan hasil finansial besar berupa kepemilikan rumah.
Banyak kaum muda yang mencari jalan pintas finansial ekstrem, beralih ke investasi berisiko tinggi seperti Kripto dengan harapan mendapatkan keuntungan besar yang instan untuk menutupi selisih harga properti yang fantastis. Sikap ini mencerminkan penerimaan risiko yang tinggi sebagai upaya terakhir melawan sistem ekonomi yang terasa tidak adil.
Secara profesional, sikap ‘Quiet Quitting’ merefleksikan hilangnya insentif karir. Ketika imbalan terbesar, stabilitas dan kepemilikan aset terasa mustahil, motivasi untuk berkorban dalam pekerjaan juga ikut lenyap.
Krisis keterjangkauan properti bukan lagi hanya masalah ekonomi; ini adalah masalah psikologis dan sosial yang membentuk ulang nilai-nilai dan perilaku generasi yang akan datang. Tren ini menunjukkan bahwa mengatasi krisis perumahan mungkin menjadi kunci untuk mengembalikan optimisme dan motivasi dalam angkatan kerja global.









