Oleh: Ustadz Murtala, MA**
Pengantar
Dalam narasi masyarakat modern,kesuksesan hampir selalu identik dengan akumulasi kekayaan materi. Gelimang harta, properti mewah, dan gaya hidup konsumtif menjadi indikator utama kebahagiaan. Di tengah arus deras materialisme ini, ada sebuah keinginan yang kontra-intuitif dari sebagian orang: keinginan untuk hidup sederhana dan bersahaja, terinspirasi oleh para Sahabat Nabi. Namun, benarkah keinginan ini berarti bercita-cita menjadi miskin? Melalui teladan Abdurrahman bin Auf seorang saudagar yang kaya raya kita justru diajak untuk memahami “kemiskinan” dalam makna yang lebih dalam dan spiritual.
Abdurrahman bin Auf: Sang Milyuner yang Bersahaja
Sebelum menganalisis lebih jauh,penting untuk meluruskan presepsi. Abdurrahman bin Auf bukanlah seorang yang miskin secara materi. Ia adalah seorang entrepreneur ulung yang kekayaannya digambarkan oleh sejarawan setara dengan kekayaan gabungan seperdelapan penduduk Madinah saat itu. Kafilah dagangnya yang datang dan pergi membuat gemuruh kota Madinah. Namun, daya tariknya justru bukan pada kekayaannya, melainkan pada orientasi dan hubungannya dengan harta tersebut.
Kunci dari sikap hidup Abdurrahman bin Auf adalah konsep Zuhud (asketisme) dalam Islam. Zuhud bukanlah berarti miskin atau menolak kekayaan. Secara profesional, zuhud adalah sebuah kerangka mental (mindset) di mana kekayaan tidak menguasai hati, melainkan hati yang menguasai kekayaan. Seorang yang zuhud melihat harta sebagai:
- Amanah (Trust): Harta adalah titipan Allah yang harus dikelola dan didistribusikan sesuai perintah-Nya.
- Wasilah (Medium): Harta adalah alat, bukan tujuan akhir. Alat untuk menegakkan agama, membantu sesama, dan meraih ridha Allah.
- Ujian (Test): Sebagaimana miskin adalah ujian kesabaran, kaya adalah ujian syukur dan tanggung jawab.
Ketika Abdurrahman bin Auf mendermakan 200 uqiyah emas, 500 kuda perang, atau 1.500 unta untuk jihad, ia sedang mempraktikkan zuhud. Ia tidak “menjadi miskin”, tetapi ia “memiskinkan” dirinya dari ketergantungan dan cinta pada harta. Inilah “kemiskinan” yang sebenarnya kemiskinan spiritual (Al-Faqr ilallah) yaitu rasa butuh yang mendalam hanya kepada Allah, bukan pada materi.
Kritik terhadap Gaya Hidup Materialistik
Keinginan untuk hidup seperti Abdurrahman bin Auf pada hakikatnya adalah sebuah bentuk resistensi terhadap budaya materialistik yang memiliki beberapa kelemahan mendasar:
· The Hedonic Treadmill: Psikologi modern mengenal konsep ini, di mana peningkatan kekayaan hanya memberikan kebahagiaan sementara. Level kebahagiaan cepat kembali ke titik semula, memaksa seseorang untuk terus mengejar lebih banyak, tanpa pernah puas. Ini kontra-produktif dengan konsep Qana’ah (rasa cukup) dalam Islam, yang merupakan harta karun kebahagiaan sejati.
· Mengaburkan Tujuan Penciptaan: Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Hidup yang berorientasi pada kekayaan berisiko menggeser tujuan utama penciptaan manusia. Waktu dan energi habis untuk mengejar dunia, hingga melalaikan kewajiban kepada Sang Pencipta.
· Sumber Kecemasan dan Stres: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kaya itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kaya (ghina’) adalah kayanya jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim). Banyaknya harta justru sering menjadi sumber konflik, kecemasan akan kehilangan, dan kesenjangan sosial.
Hidup Bahagia dan Bersahaja: Sebuah Konstruksi Islami
Lantas,seperti apa hidup yang “bahagia dan bersahaja” sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya inginkan?
- Mencari Kecukupan, Bukan Kelimpahan: Nabi SAW berdoa, “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup.” (HR. Muslim). Ini adalah prinsip dasar. Bekerjalah untuk mencari nafkah yang halal dan baik, tetapi jadikan tujuan akhirnya adalah kecukupan untuk bisa hidup mandiri dan beribadah dengan tenang, bukan menumpuk kekayaan.
- Mengalirkan Harta, Banyak Memberi: Kebahagiaan sejati justru ditemukan dalam memberi. Allah menjanjikan ganti yang berlipat dan keberkahan bagi orang yang berinfak (QS. Al-Baqarah: 261). Semakin banyak harta yang dialirkan di jalan Allah, semakin “kaya” hati seseorang. Inilah yang dilakukan Abdurrahman bin Auf.
- Membangun Kekayaan Akhirat: Hidup di dunia adalah ladang untuk akhirat. Kekayaan sejati adalah yang kita tabung untuk kehidupan yang kekal. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang shalih adalah yang di tangan orang shalih.” (HR. Ahmad). Harta menjadi “shalih” ketika digunakan untuk kebaikan.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Keinginan untuk hidup bersahaja seperti teladan Abdurrahman bin Auf bukanlah romantisme kemiskinan,melainkan aspirasi untuk mencapai kemandirian spiritual. Ini adalah pilihan hidup yang sangat profesional dan rasional, karena didasari pada pemahaman yang mendalam tentang tujuan penciptaan manusia dan mekanisme kebahagiaan yang sejati.
Oleh karena itu, kita perlu merekonstruksi definisi sukses kita. Alih-alih berorientasi menjadi kaya raya, mari kita bercita-cita untuk menjadi:
· Kaya Hati (Ghina an-Nafs): Merasa cukup dengan apa yang Allah beri.
· Kaya Amanah: Menjadi channel blessing bagi orang lain, seperti Abdurrahman bin Auf.
· Kaya Iman: Memiliki ketenangan jiwa karena yakin semua rezeki sudah dijamin oleh Allah.
Dengan paradigma ini, hidup tidak hanya akan menjadi lebih bahagia dan bermakna, tetapi juga selaras dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya, menuju akhir yang indah baik di dunia maupun di akhirat.
**)Penulis: Ustadz Murtala,MA (Kepala Panti Asuhan Rahmania)










