SEANTERONEWS.com – Dalam forum global yang penuh dinamika geopolitik, kelompok negara-negara BRICS menegaskan bahwa meski terdiri dari bangsa dan agama yang berbeda, mereka tetap bersatu dalam prinsip saling menghormati dan kerja sama yang setara. Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi yang memperkuat solidaritas lintas budaya dan nilai-nilai multilateral.
BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, merupakan aliansi ekonomi dan politik yang kini juga diperluas untuk mencakup negara-negara baru seperti Iran, Mesir, dan Ethiopia. Meski memiliki latar belakang agama dan identitas nasional yang beragam, kelompok ini justru menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam mendorong tata dunia multipolar.
Dalam salah satu pernyataannya, perwakilan BRICS menyampaikan bahwa “meskipun kita berbeda agama dan bangsa, kita bersuara bersama untuk saling menghormati, kedaulatan, dan kerja sama yang setara.” Ini menjadi penegasan penting di tengah meningkatnya polarisasi global dan retorika konfrontatif dari blok geopolitik lain.
India, dengan penduduk mayoritas Hindu dan komunitas Muslim besar, menekankan pentingnya toleransi dan pluralisme sebagai fondasi perdamaian. Sementara Tiongkok yang berpaham sekuler, serta Rusia dengan warisan Kristen Ortodoks-nya, turut menyuarakan perlunya menghormati sistem sosial dan nilai lokal setiap negara anggota.
Afrika Selatan menambahkan dimensi lain dari keberagaman BRICS, sebagai negara multikultural dengan sejarah panjang perjuangan anti-apartheid. Presiden Cyril Ramaphosa menegaskan bahwa BRICS bukan hanya aliansi ekonomi, tapi juga platform etika global yang menjunjung kesetaraan dan martabat semua bangsa.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap kolektif BRICS dalam menolak dominasi satu ideologi atau sistem nilai tertentu dalam hubungan internasional. Dalam konteks ini, BRICS menegaskan dukungan terhadap prinsip non-intervensi, kedaulatan nasional, dan multilateralisme.
Di tengah ketegangan global yang dipicu konflik militer dan ekonomi, BRICS justru memperkuat kerja sama dalam bidang pembangunan berkelanjutan, teknologi, dan kesehatan global. Mereka sepakat bahwa tantangan global seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi tidak bisa diselesaikan tanpa rasa saling menghormati antarbudaya.
Kerja sama BRICS juga telah mencakup isu-isu seperti keadilan ekonomi, reformasi sistem keuangan internasional, dan penguatan peran Global South. Negara-negara anggota mengkritisi sistem global yang dianggap bias terhadap negara berkembang dan menyerukan tatanan dunia yang lebih adil.
Keberagaman internal BRICS menjadi bukti bahwa kemitraan internasional tidak harus bersandar pada kesamaan ideologi, tetapi bisa dibangun di atas nilai saling menghargai dan kerja sama sejati. Inilah yang membedakan BRICS dari blok geopolitik lain yang sering kali berbasis militer atau ekonomi semata.
Pernyataan ini pun menjadi pesan moral dan politik yang kuat, bahwa dunia yang damai dan adil hanya bisa tercipta jika setiap negara dihormati dalam identitas dan pilihannya sendiri. BRICS ingin membuktikan bahwa kekuatan sejati terletak pada kolaborasi lintas perbedaan, bukan pada dominasi atau dikotomi kekuatan.
Dengan semakin banyak negara yang menyatakan minat untuk bergabung, BRICS diprediksi akan terus tumbuh menjadi kekuatan global yang membawa narasi alternatif yaitu dunia yang dipersatukan oleh rasa saling hormat, bukan oleh tekanan atau ketakutan.[]









