Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai menimbulkan riak kekhawatiran di tengah masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei terbaru dari GoodStats, mayoritas responden mengaku cemas akan dampak konflik tersebut terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama terkait potensi lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan komoditas pokok.
Menyikapi fenomena ini, pakar ekonomi memperingatkan bahwa perilaku panic buying atau aksi borong barang bukanlah solusi, melainkan ancaman baru yang dapat memperburuk kondisi pasar domestik.
Bahaya Inflasi Psikologis akibat Aksi Borong
Dosen Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Yogyakarta, Dr. Sultan, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa panic buying sering kali memicu apa yang disebut sebagai inflasi psikologis. Perilaku kelompok yang membeli produk dalam jumlah berlebih karena takut kelangkaan justru akan menciptakan kelangkaan itu sendiri secara nyata.
“Ketersediaan barang akan menipis dan harga otomatis meroket jika konsumen bertindak impulsif. Ini adalah tindakan spontan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang bagi stabilitas ekonomi,” papar Sultan.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Drs. Didit Welly Udjianto, M.S., Guru Besar Ekonomi UPN Yogyakarta, menegaskan bahwa masyarakat perlu beralih ke pola smart consumption (konsumsi bijak). Menurutnya, langkah jangka pendek yang paling rasional adalah melakukan penghematan penggunaan BBM dan memprioritaskan anggaran pada kebutuhan esensial.
Ancaman Rantai Pasok Energi dan Pangan
Kekhawatiran publik dinilai cukup berdasar mengingat posisi strategis Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur transit bagi 20 persen minyak dunia, dapat mengerek harga minyak mentah secara global.
Indonesia sendiri memiliki ketergantungan yang cukup signifikan, di mana 25 persen impor minyak mentah dan 30 persen LPG nasional berasal dari kawasan Timur Tengah. Gangguan pada rute ini dipastikan akan menekan struktur biaya energi di dalam negeri serta mengganggu rantai pasok pangan global.
Solusi Strategis: Konsumsi Rasional di Momen Idulfitri
Meski kondisi dunia tidak menentu, para pakar menekankan agar masyarakat tidak melakukan penghematan ekstrem yang justru dapat melumpuhkan ekonomi. Hal ini sangat relevan menjelang momen Idulfitri 2026.
“Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB Indonesia. Jika masyarakat menahan belanja secara drastis saat Lebaran, mesin ekonomi domestik justru akan melambat,” pungkas Sultan.
Beberapa langkah antisipasi yang disarankan oleh para ahli antara lain:
Prioritas Kebutuhan Pokok: Memangkas pengeluaran non-esensial dan fokus pada barang kebutuhan harian.
Cintai Produk Lokal: Mengonsumsi produk dalam negeri untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik.
Diversifikasi Aset: Mengalihkan sebagian dana ke instrumen investasi yang lebih aman seperti emas atau obligasi negara.











