BREAKING

NASIONAL

Modernisasi Pengelolaan Zakat: Baznas Integrasikan Teknologi, Data, dan Pengalaman Muzaki

Baznas mengintegrasikan kanal teknologi, data, dan pengalaman muzaki dalam ekosistem digital fundraising untuk mempermudah pembayaran ZIS secara akuntabel.

JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mempercepat langkah modernisasi tata kelola filantropi Islam nasional melalui konsolidasi ekosistem penghimpunan dana digital (digital fundraising). Strategi ini dirancang dengan menyatukan konektivitas multi-kanal, akurasi analitik data, pelibatan jejaring komunitas, serta peningkatan kenyamanan pengalaman para muzaki saat menunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).

Cetak biru inovasi tersebut dipaparkan dalam sesi penjurian ajang kompetisi Indonesia Digital Marketing Champions 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah SWA berkolaborasi dengan Business Digest, Kamis (8/10/2026).

Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan Baznas, Rizaludin Kurniawan, menjelaskan bahwa akselerasi digital bukan sekadar upaya mengikuti arus disrupsi teknologi, melainkan instrumen fundamental untuk memperkokoh transparansi dan akuntabilitas kelembagaan zakat di tanah air.

“Digitalisasi bukan hanya soal mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga upaya memperkuat tata kelola agar pengelolaan zakat berjalan lebih efektif, efisien, dan akuntabel,” terang Rizaludin.

Rizaludin menambahkan, kenyamanan publik dalam berinteraksi dengan platform zakat menjadi perhatian utama manajemen. Penyempurnaan sistem teknologi informasi terus dilakukan agar masyarakat memperoleh perlindungan privasi, kemudahan transaksi, dan ketepatan penyaluran.

“Kepercayaan publik merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat. Karena itu, inovasi digital harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan dan tata kelola yang profesional,” tegasnya.

Menghubungkan Kanal yang Terfragmentasi

Dari aspek operasional pengumpulan, Kepala Divisi Pengumpulan Digital Baznas, Fahrudin, membeberkan bahwa perumusan ekosistem digital ini merupakan respons taktis atas sejumlah hambatan di lapangan.

Kendala tersebut antara lain riwayat interaksi muzaki (muzaki journey) yang masih terfragmentasi di berbagai platform, kesenjangan antara ketersediaan data donatur dan eksekusi program, hingga tantangan konversi serta retensi muzaki pada kanal-kanal internal.

“Tantangan kami bukan sekadar bagaimana menambah kanal digital, tetapi bagaimana mengubah berbagai kanal tersebut menjadi sebuah ekosistem yang saling terhubung dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi muzaki,” papar Fahrudin.

Empat Pilar Strategis Digitalisasi Baznas

Guna mengurai kompleksitas tersebut, Baznas menerjemahkan peta jalan penghimpunan digital ke dalam empat fokus aksi utama:

Scale the Reach: Memperluas penetrasi literasi dan jangkauan publik terhadap program-program ZIS.

Scale the Participation: Membangun keterlibatan aktif masyarakat dan kolaborasi lintas komunitas secara inklusif.

Scale the Conversion: Mengoptimalkan kemudahan antarmuka layanan agar minat donasi terkonversi efektif menjadi transaksi riil.

Scale the Experience: Menyajikan pengalaman donasi yang aman, cepat, personal, dan transparan di setiap titik layanan.

Melalui pendekatan ekosistem digital yang adaptif ini, Baznas bertekad memperluas daya jangkau pemanfaatan zakat guna meningkatkan kesejahteraan mustahik di seluruh pelosok Indonesia secara tepat sasaran.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts