JAKARTA – Nama Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Suyudi Ario Seto mendadak menjadi magnet perhatian publik tanah air. Perwira tinggi bintang tiga yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) tersebut resmi diajukan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) untuk menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Langkah suksesi kepemimpinan Korps Bhayangkara ini bergulir cepat. Berkas Surat Presiden (Surpres) yang diterima pimpinan DPR RI pada Rabu (30/9/2026) langsung ditindaklanjuti ke meja Komisi III untuk menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Kamis (1/10/2026).
Penunjukan Suyudi dipandang sebagai muara dari perjalanan karier panjang yang matang, didominasi pengalaman di medan reserse kriminal serta kepemimpinan teritorial yang berlapis.
Fondasi Pendidikan dan Tempaan Reserse Kriminal
Lahir pada 14 Juli 1973, Suyudi mengawali pengabdiannya di Korps Bhayangkara selepas menuntaskan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) pada 1994. Komitmen akademis dan kepemimpinannya diperdalam lewat kelulusan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003, hingga menyandang predikat alumni Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri pada 2018.
Sebagian besar jejak pengabdian awalnya terukir di medan penegakan hukum dan pembongkaran tindak pidana. Suyudi kenyang pengalaman operasional di kawasan metropolitan Jakarta. Ia tercatat pernah memegang tongkat komando Unit Reserse Mobil (Resmob) Polda Metro Jaya, sebelum kemudian dipercaya menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) di tiga wilayah hukum krusial: Polres Metro Jakarta Selatan, Polres Metro Tangerang Kota, hingga Polres Metro Jakarta Barat.
Kemampuan investigasinya membawa Suyudi ditarik ke markas pusat Bareskrim Polri. Di level nasional, ia pernah mengemban amanah sebagai Kanit Resmob Bareskrim, Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Wadirtipideksus), serta Wakil Direktur Tindak Pidana Siber (Wadirtipidsiber). Puncak pembuktiannya di ranah penegakan hukum kriminal umum terjadi pada 2019 saat ia dipercaya menduduki pos Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya.
Kematangan Komando Kewilayahan
Selain piawai mengurai perkara hukum yang rumit, portofolio Suyudi diperkaya oleh kepemimpinan kewilayahan yang berjenjang dari level akar rumput.
Di wilayah ibu kota yang dinamis, ia pernah memimpin tiga polsek strategis sebagai Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang, dan Kapolsek Metro Penjaringan. Jam terbangnya kian kokoh saat mendapat mandat memimpin sejumlah polres penyangga dan pusat, yakni sebagai Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota, hingga menjadi Kapolres Metro Jakarta Pusat pada rentang 2014–2017.
Kepiawaian manajerial di lapangan tersebut mengantarkannya ke jajaran perwira tinggi. Pada 2023, Suyudi dipromosikan sebagai Wakapolda Metro Jaya. Setahun berselang, pangkatnya resmi naik menjadi Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) seiring penunjukannya sebagai Kapolda Banten (2024–2025).
Kepemimpinan Lintas Lembaga dan Menuju Kapolri
Fase pengabdian Suyudi meluas ke ranah institusi eksternal pada Agustus 2025. Setelah sempat dialihkan sebagai Perwira Tinggi Bareskrim Polri untuk penugasan luar struktur, Presiden Prabowo melantiknya secara definitif sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025. Penunjukan ini sekaligus mengerek pangkatnya menjadi Komisaris Jenderal Polisi (bintang tiga).
Di tampuk pimpinan BNN, Suyudi diuji dalam memimpin operasi pemberantasan jaringan peredaran gelap narkotika skala transnasional, sembari memperkuat koordinasi antar-lembaga penegak hukum dan pertahanan negara.
Kombinasi pengalaman reserse yang tajam, kedekatan teritorial dengan dinamika masyarakat perkotaan, serta wawasan kepemimpinan lintas sektoral di BNN kini menjadi bekal utama Komjen Pol Suyudi Ario Seto. Di hadapan Komisi III DPR RI, sang jenderal memaparkan visi besarnya untuk memimpin transformasi institusi Kepolisian Republik Indonesia menuju era baru pengabdian.[]









