YOGYAKARTA – Tragedi banjir bandang berskala masif yang menerjang Nepal akibat runtuhnya struktur gletser di kawasan Pegunungan Himalaya menjadi peringatan serius bagi peradaban global. Pakar Tata Kelola Bencana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmawati Husein, menegaskan bahwa peristiwa katastropik tersebut merupakan bukti tak terbantahkan dari akselerasi pemanasan global yang kini mengancam stabilitas ekosistem dunia.
Bencana hidrometeorologi ekstrem tersebut bermula dari longsornya massa es dan batuan purba di dekat perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus 2026. Aliran material sedimen, lumpur, dan batuan bervolume raksasa bergerak cepat mengikuti kontur daerah aliran sungai, menyapu permukiman warga, melumpuhkan jembatan penghubung, serta memorak-porandakan sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Data pelaporan internasional mencatat bencana ini menelan sedikitnya 1.344 korban jiwa, sementara lebih dari 4.887 orang lainnya masih dinyatakan hilang di tengah operasi pencarian yang terkendala medan terjal.
Bukan Sekadar Bencana Lokal, Melainkan Krisis Planetari
Menanggapi keprihatinan global tersebut, Rahmawati Husein menyatakan bahwa keruntuhan gletser di wilayah berketinggian ekstrem memperlihatkan rapuhnya bentang alam bumi akibat kenaikan suhu rata-rata atmosfer.
“Ini adalah bukti nyata perubahan iklim. Longsoran es dan batuan di Himalaya membuktikan bahwa pemanasan global memaksa es abadi mencair dengan laju yang mengkhawatirkan. Dari sudut pandang tata kelola, peristiwa ini telah melampaui batas kedaulatan satu negara dan menjadi alarm bahaya bagi seluruh penduduk bumi,” jelas Rahmawati, Sabtu (5/9/2026).
Fenomena runtuhnya bendungan alami gletser (Glacial Lake Outburst Flood/GLOF) di atap dunia tersebut memiliki efek domino yang bersifat lintas batas. Selain memicu kerusakan fisik instan di hilir, pencairan cadangan es pegunungan secara masif berkontribusi langsung pada peningkatan volume air laut secara global.
Relevansi Kritis bagi Kepulauan Indonesia
Rahmawati mengingatkan bahwa letak geografis Indonesia yang berjarak ribuan kilometer dari Pegunungan Himalaya tidak menjadikan nusantara kebal terhadap dampaknya. Sebagai negara maritim dengan lebih dari 17 ribu pulau, dinamika pencairan es di kawasan kutub dan pegunungan tinggi memiliki korelasi langsung terhadap kelangsungan ruang hidup masyarakat pesisir Indonesia.
“Jika volume pencairan es dunia terus meningkat, permukaan air laut akan ikut naik. Indonesia harus berada dalam posisi sangat waspada karena pulau-pulau kecil dan pemukiman pesisir berelevasi rendah berada di garis depan ancaman abrasi dan tenggelam,” tegasnya.
Perubahan iklim global bekerja dalam satu sistem hidrologi terpadu. Kenaikan suhu permukaan laut tidak hanya mengikis daratan kepulauan, tetapi juga memicu anomali cuaca ekstrem, mengubah siklus monsun, serta melipatgandakan intensitas badai tropis di wilayah khatulistiwa.
Akselerasi Mitigasi dan Ketangguhan Bencana
Tragedi di Nepal semestinya dijadikan momentum evaluasi bagi para pengambil kebijakan di Indonesia untuk memperkuat arsitektur tata kelola bencana, yang meliputi:
Penguatan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya: Mengintegrasikan pemantauan satelit real-time dan sensor cuaca guna mendeteksi ancaman hidrometeorologi secara cepat sebelum melanda kawasan permukiman.
Tata Ruang Berbasis Risiko Iklim: Menghentikan alih fungsi lahan kritis di daerah aliran sungai (DAS) serta memperketat izin pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir rentan abrasi.
Pembangunan Rendah Emisi dan Konservasi: Mempercepat target dekarbonisasi energi, merestorasi hutan mangrove sebagai benteng alami pesisir, dan menjaga kubah gambut tropis.
Kerja Sama dan Diplomasi Lingkungan: Memperkuat kolaborasi internasional dalam pertukaran data iklim, transfer teknologi mitigasi, dan pendanaan aksi adaptasi global.
“Perubahan iklim tidak bisa diselesaikan hanya dengan respons kuratif saat bencana sudah terjadi. Kesiapsiagaan struktural, proteksi lingkungan hidup, dan edukasi publik adalah investasi jangka panjang yang tidak dapat ditunda lagi,” pungkas Rahmawati.
Bencana di Himalaya membawa pesan mendalam: ketika keseimbangan iklim bumi terganggu, tidak ada benteng geografis yang cukup tebal untuk melindungi sebuah negara dari dampak lanjutannya. Ketahanan masa depan bergantung pada keseriusan aksi adaptasi hari ini.[]











