TAPAKTUAN – Rumah Tahanan Negara (Rutan) sering kali dianggap hanya sebagai tempat membuang waktu bagi mereka yang tersesat. Namun, di balik dinding kokoh Rutan Kelas II B Tapaktuan, Aceh Selatan, sebuah paradigma baru sedang dibangun. Ikatan Penyuluh Agama Islam (IPARI) Aceh Selatan kini tidak lagi sekadar mengajarkan tilawah, melainkan menghadirkan pendekatan “Pembinaan Karakter Warga Binaan Berbasis Keteladanan Rasulullah SAW”.
Pendekatan ini menyentuh esensi yang sering terlupakan: bahwa di balik pintu besi, terdapat manusia yang memiliki hati, keluarga, dan keinginan kuat untuk menebus masa lalu. Perubahan karakter tidak akan lahir dari sekadar nasihat, melainkan dari internalisasi teladan.
Meneladani Akhlak di Tengah Keterbatasan
Sebagaimana pesan Imam Malik, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu,” pembinaan di Rutan Tapaktuan kini difokuskan pada penguatan akhlak sebagai kompas utama. Melalui sosok Rasulullah SAW, warga binaan diajak untuk memahami nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kemampuan memaafkan diri sendiri.
Sering kali, seseorang terjerumus ke dalam tindak kriminal bukan karena ketiadaan niat baik, melainkan karena himpitan keadaan, pendidikan yang minim, atau pengaruh lingkungan. Kesalahan memang menuntut pertanggungjawaban hukum, namun kesalahan tersebut bukanlah cap permanen yang menghapus masa depan. Islam secara tegas membukakan pintu taubat selebar-lebarnya; “Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
Mengubah “Dosa” Menjadi “Harapan”
Dalam diskusi yang dihadiri Kepala Rutan Kelas II B Tapaktuan, Muhammad Sukron, dan perwakilan Kemenag Aceh Selatan, Jaili Farman, muncul sebuah anekdot sederhana namun menyentuh. Ketika seorang warga binaan ditanya mengapa ia tidak segera menjadi orang baik sejak dulu, ia menjawab, “Saya tidak perlu menunggu pintu Rutan dibuka untuk membuka pintu hati.”
Pesan ini menjadi inti dari pembinaan karakter. Perubahan sesungguhnya adalah proses internal. Tidak ada gunanya menangis dalam ceramah jika setelahnya kembali ke kebiasaan lama. Pembinaan yang ideal harus mampu meyakinkan warga binaan bahwa mereka bukan lagi “orang yang salah”, melainkan “orang yang sedang berproses untuk benar”.
Membuktikan Perubahan Itu Nyata
Satu poin krusial yang ditegaskan Ketua IPARI Aceh Selatan, Ustadz Kaifal Muddin, adalah pentingnya memberikan bukti nyata. Banyak warga binaan merasa skeptis dengan perubahan diri sendiri. Untuk itu, kisah sukses para alumni warga binaan mereka yang kini menjadi hafiz, penceramah, atau pengusaha sukses harus terus disuarakan di dalam rutan.
Cerita-cerita tersebut menjadi bahan bakar optimisme. Ketika seorang warga binaan melihat orang yang memiliki masa lalu serupa mampu meraih kemuliaan, di situlah tumbuh keyakinan: “Jika dia bisa, mengapa saya tidak?”
Dakwah yang Memanusiakan
Pada akhirnya, pembinaan di balik jeruji adalah tentang memanusiakan manusia. IPARI Aceh Selatan telah membuktikan bahwa dakwah tidak harus kaku. Dengan memadukan ilmu agama, dialog yang hangat, hingga sentuhan humor yang mendidik, pembinaan menjadi ruang yang hidup.
Tujuan akhirnya jelas: menyiapkan warga binaan agar saat pintu besi benar-benar terbuka nanti, mereka bukan hanya sekadar bebas secara fisik, melainkan juga merdeka secara karakter. Mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang amanah, jujur, dan bermanfaat. Karena bagi Allah SWT, tidak ada yang sia-sia dari sebuah niat untuk memperbaiki diri.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa masa lalu hanyalah sebuah pengalaman, sedangkan masa depan adalah milik mereka yang berani mengakui kesalahan dan berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik. Keteladanan, itulah kunci pembinaan yang akan terus menghidupkan harapan di balik jeruji besi.[]
Sumber: POTRET











