BEIJING — Laporan keuangan terbaru dari Xiaomi memperlihatkan dinamika menarik pada performa bisnis gawai pintarnya. Sepanjang kuartal kedua (Q2) tahun 2026, raksasa teknologi asal Tiongkok ini mencatatkan penurunan volume pengiriman smartphone secara global hingga 26,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data keuangan perusahaan, Xiaomi secara global mendistribusikan sebanyak 31,2 juta unit smartphone pada kuartal II-2026. Angka tersebut menyusut signifikan ketimbang pencapaian kuartal II-2025 yang sempat menyentuh angka 42,4 juta unit.
Tren penurunan ini juga membayangi pasar domestik China. Pengiriman di pasar kandangnya tergerus menjadi 8,4 juta unit (pangsa pasar 14,2 persen), merosot dari periode kuartal I-2025 yang mencatatkan 10,3 juta unit (14,4 persen) serta kuartal II-2025 sebesar 11,5 juta unit (16,8 persen).
Rekor Baru Harga Jual Rata-rata (ASP)
Meski terjadi penurunan kuantitas dari sisi volume pengiriman unit, tingkat pendapatan per unit Xiaomi justru mengalami tren sebaliknya. Harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) smartphone Xiaomi mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah berdiri perusahaan, yakni menyentuh 1.351 yuan (sekitar Rp3,5 juta).
Lonjakan nilai ASP ini didorong oleh kian kuatnya dominasi segmen smartphone flagship atau premium. Di pasar Tiongkok daratan saja, kontribusi lini gawai premium melonjak hingga 32,1 persen dari total penjualan, naik dari angka 27,6 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Konsistensi di Tiga Besar Produsen Global
Walaupun dihantam penurunan volume, posisi Xiaomi di peta industri telekomunikasi dunia relatif kokoh. Perusahaan tetap mengamankan predikat sebagai pabrikan smartphone terbesar ketiga di dunia selama 24 kuartal berturut-turut, dengan penguasaan pangsa pasar global sebesar 11,5 persen.
Di tingkat regional, posisi pasar Xiaomi tercatat cukup solid:
-
Peringkat Kedua: Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
-
Peringkat Ketiga: Eropa dan Afrika.
-
Peringkat Keempat: India.
Smartphone dan Ekosistem AIoT Tetap Jadi Tulang Punggung
Secara keseluruhan, divisi smartphone bersama ekosistem produk Artificial Intelligence of Things (AIoT) masih bertindak sebagai penopang utama neraca keuangan Xiaomi. Gabungan dua sektor ini membukukan pendapatan sebesar 84,0 miliar yuan pada Q2 2026 dengan margin laba kotor berada pada level 20,0 persen.
Rincian perolehan pendapatan perusahaan mencakup:
-
Bisnis Smartphone: Menyumbang 42,1 miliar yuan.
-
IoT & Produk Lifestyle: Menghasilkan 31,3 miliar yuan.
-
Divisi Lain: Kontribusi dari lini Smart EV (kendaraan listrik) dan riset AI.
Secara kumulatif, total konsolidasi pendapatan Xiaomi pada kuartal II-2026 sukses menembus 108,9 miliar yuan dengan margin laba kotor 19,8 persen, serta membukukan laba bersih yang disesuaikan sebesar 6,2 miliar yuan.









