PIDIE – Menandai 21 tahun momentum perdamaian Aceh, para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kabupaten Pidie secara tegas menyatakan komitmen untuk terus menjaga stabilitas daerah. Melalui pernyataan sikap yang ditandatangani di Sigli, Sabtu (15/8/2026), mereka mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama merawat kedamaian yang telah dirasakan selama dua dekade terakhir.
Dalam pernyataan sikap tersebut, para eks kombatan menyerukan agar warga tidak mudah terprovokasi oleh isu atau ajakan yang berpotensi memecah belah persatuan. Mereka menekankan bahwa perdamaian adalah aset berharga yang harus dijaga dari gangguan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Komitmen menjaga perdamaian tidak hanya diwujudkan dalam bentuk seruan, tetapi juga diimplementasikan melalui upaya konkret peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bersamaan dengan momentum tersebut, digelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pertanian di Aula Saka Coffee, Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie.
Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para eks kombatan dan masyarakat setempat dengan keterampilan praktis di sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi wilayah Pidie. Mahzal, yang hadir sebagai pemateri, membagikan teknik-teknik pengelolaan usaha tani yang efektif. Di sisi lain, tokoh lain bernama Rusli memberikan paparan mengenai sejarah perjuangan Aceh yang kini ditempatkan dalam konteks membangun masa depan dalam bingkai perdamaian.
“Perdamaian ini adalah modal utama. Kami tidak hanya berkomitmen menjaga keamanan, tetapi juga ingin memastikan masyarakat, termasuk para mantan kombatan, dapat hidup sejahtera melalui sektor pertanian yang lebih produktif,” ujar perwakilan kelompok.
Pihak eks kombatan GAM Pidie menegaskan bahwa pembangunan Aceh memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, akademisi, pemuda, hingga perempuan dinilai memiliki peran setara dalam mempercepat laju pembangunan daerah. Mereka meyakini bahwa iklim yang kondusif akan menciptakan daya tarik investasi yang lebih luas bagi Pidie.
“Kolaborasi yang baik antara seluruh elemen masyarakat akan memperkuat kepercayaan publik. Iklim yang aman dan kondusif sangat dibutuhkan untuk menarik investasi, meningkatkan taraf hidup petani, dan memajukan daerah kita,” tertulis dalam pernyataan tersebut.
Para eks kombatan juga menekankan bahwa menjaga perdamaian adalah bentuk penghormatan bagi generasi mendatang. Mereka mengajak masyarakat untuk mengedepankan dialog, menjunjung tinggi hukum, dan saling menghormati perbedaan pendapat sebagai bagian dari kedewasaan dalam berdemokrasi.
Dengan langkah ini, mantan pejuang GAM di Pidie berharap Aceh tidak lagi dikenal karena riwayat konflik, melainkan menjadi daerah yang stabil, maju, dan bermartabat. Perdamaian yang telah dirawat selama 21 tahun ini menjadi fondasi bagi mereka untuk terus mengabdi bagi kemajuan Bumi Serambi Mekkah.[]











